Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

92% Orangtua Alami Low Income Selama Pandemi, Anak Terancam Putus Sekolah

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Sabtu 14 November 2020 16:13 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 14 620 2309579 92-orangtua-alami-low-income-selama-pandemi-anak-terancam-putus-sekolah-jHsy5d5PXL.jpg Ilustrasi. (Foto: Freepik)

TAK sedikit orangtua mengalami low income di masa pandemi Covid-19. Hal ini tentu sangat berdampak kepada anak-anak di dalam sebuah keluarga.

Diungkapkan Chief of Business Development Save the Children, Rizal Algamar, anak merupakan masa depan bangsa dan cikal bakal lahirnya suatu generasi baru. Kelak mereka menjadi penerus cita-cita penerus bangsa.

“Karena dampak Covid-19 ini, anak-anak kehilangan kesempatan untuk belajar, dan para pekerja sedang menghadapi masalah ekonomi. Hal ini akan mengarah kepada meningkatnya pekerja anak-anak atau usia muda.

Baca Juga: Vaksin Ditemukan, Apakah Wajib Pakai Masker Masih Diperlukan?

anak

Seharusnya, menurut dia, anak-anak dapat bermain, berkreativitas, mendapat edukasi, kesehatan dan sejahtera tanpa merasa khawatir jauh dari orangtua mereka dalam mendukung tumbuh kembang anak itu sendiri.

"Sebaliknya para orangtua tetap dapat bekerja dengan tenang tanpa perlu kekhawatiran untuk kehilangan waktu bersama anaknya dan tentunya kondisi ini juga dapat mendukung proses tumbuh kembang anak dengan baik”, ujar Rizal.

Berdasarkan hasil polling dari The Center for Child Rights and Corporate Social Responsibility, 92 persen orangtua mengalami low income di masa pandemi Covid-19. Hal ini menjadi tantangan tersendiri bagi keluarga.

“Tantangan tersebut adalah risiko putus sekolah, kesehatan, keamanan, meningkatnya tingkat stres dan eksploitasi pekerja. Selain itu, pada masa pandemi ini juga meningkatkan risiko para pekerja usia dini khususnya anak-anak," imbuh Executive Director The Center for Child Rights and Corporate Social Responsibility Asia, Ines Kaempfer.

Baca Juga: Hari Diabetes Sedunia, Kenali Penyebab Penyakit Ini Semakin Banyak

Ines menambahkan, hal itu terjadi karena adanya tekanan finansial, kerja serabutan, lingkungan kerja yang tidak baik, banyaknya pekerja yang dijadikan pekerja harian. Para orangtua juga terpaksa membawa anak ke tempat kerja, serta kekurangan pekerja.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini