Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bocah SD di Sleman Gantung Diri, Fenomena Anak Bunuh Diri Kenapa Bisa Terjadi?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 10 September 2021 09:43 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 10 620 2469126 bocah-sd-di-sleman-gantung-diri-fenomena-anak-bunuh-diri-kenapa-bisa-terjadi-UKy6Et07lv.jpg Ilustrasi (Foto : Timesofindia)

BERITA bocah berusia 12 tahun di Sleman, Yogyakarta ditemukan tewas bunuh diri di kamarnya mengejutkan publik. Berdasarkan penyelidikan polisi, bocah kelas 6 SD itu meregang nyawa dengan menggantungkan dirinya menggunakan tali.

Dugaan sementara mengarah pada alasan tertekan. Terlebih, sebelum peristiwa naas itu terjadi, bocah malang tersebut membuat status WhatsApp berisikan pesan terakhir untuk kekasihnya.

Kejadian ini harus menjadi perhatian semua, termasuk orangtua yang memiliki anak usia remaja. Keputusan untuk bunuh diri di umur belia adalah sesuatu yang menyedihkan, karena di usia tersebut seharusnya anak-anak merasa aman bersama keluarganya.

Anak Depresi

Fenomena bunuh diri pada anak sejatinya pernah dilaporkan oleh Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serikat (CDC), yaitu ada 29 kasus bunuh diri pada anak berusia 10 atau bahkan lebih muda sepanjang 2019.

Laporan NBC News bahkan mengungkapkan bahwa anak-anak berusia 6-12 tahun yang datang ke rumah sakit anak dengan keluhan pikiran mau bunuh diri atau melukai diri sendiri terus meningkat setiap tahunnya sejak 2016.

"Ada 5.485 anak-anak berusia 6-12 tahun yang mengunjungi ruang gawat darurat khusus untuk mereka yang kepikiran mau bunuh diri atau melukai diri sendiri. Pada 2019, naik sebanyak 2.555 kasus," kata Asosiasi Rumah Sakit Anak di AS, dikutip Kamis (9/9/2021).

Baca Juga : Begini Tanda-Tanda Anak Berpotensi Bunuh Diri, Simak Yuk!

Tak hanya di level rumah sakit, The Children's Center, suatu klinik kesehatan mental remaja untuk anak berusia 8 tahun ke bawah, berlokasi di Salt Lake City, pun menemukan fenomena ini.

"Telepon tidak pernah berhenti berdering. Kebanyakan berasal dari keluarga yang mencari bantuan untuk anaknya yang memiliki masalah kesehatan mental, termasuk soal keinginan bunuh diri," papar CEO The Children's Center Rebecca Dutson.

Baca Juga : Diduga Depresi, Pasien Covid-19 Tewas Gantung Diri di RS Bali

Ada begitu banyak alasan mengapa anak-anak memiliki pikiran untuk bunuh diri. Namun, mengacu pada data yang dimiliki Children's Minnesota Hospital, itu karena penyalahgunaan narkoba multigenerasi, kesehatan mental, dan kemiskinan.

Munculnya pandemi pun memberi peran dalam menciptakan fenomena ini. Para ahli kesehatan mental sangat khawatir pandemi tak berkesudahan menciptakan masalah yang serius untuk anak-anak.

"Pandemi membuat anak-anak mudah depresi, dan cemas. Terlebih, banyak anak-anak yang kehilangan orangtuanya karena meninggal dunia akibat Covid-19. Ini menambah masalah pada anak-anak," kata Jonathan Singer, presiden American Association of Suicidology.

Lebih lanjut, masalah meningkatnya penggunaan media sosial oleh anak-anak juga memberi peran dalam masalah ini. Dari hal itu, berlanjut ke masalah banyak anak-anak yang begadang dan ini meningkatkan risiko stres dalam diri mereka.

Di AS sendiri pernah dilakukan suatu survei yang melibatkan 11.000 anak berusia 9-10 tahun dan ditemukan data bahwa 1,3 persen dari mereka pernah mencoba bunuh diri. Sementara itu, 9,1 persen melaporkan pernah melukai diri sendiri.

"Kita perlu mencoba mencari tahu mengapa anak-anak di usia yang masih sangat muda sudah kepikiran untuk bunuh diri atau bahkan sudah melakukan percobaan melukai diri sendiri," kata Diana Whalen, seorang profesor psikiatri di fakultas Kedokteran Universitas Washington di St. Louis.

Tanda-tanda anak berpotensi bunuh diri

berdasar laman Kids Health, khususnya para orangtua, penting untuk mengenali si anak apakah ada kecenderungan melakukan bunuh diri.

"Bunuh diri di kalangan remaja sering terjadi setelah peristiwa kehidupan yang penuh tekanan, seperti masalah di sekolah, putus cinta, kematian orang yang disayang, perceraian orangtua, atau konflik keluarga besar," papar laman tersebut.

Anak Depresi

Ada tanda peringatan bunuh diri yang harusnya disadari para orangtua, berikut selengkapnya:

1. Berbicara tentang bunuh diri atau kematian secara umum

2. Sering menjauh dari sisi Anda

3. Bicara tentang merasa tak ada lagi harapan dalam hidup atau merasa bersalah pada satu hal dan terjadi terus menerus

4. Menarik diri dari teman-teman atau keluarga

5. Menulis lagu, puisi, atau sesuatu tentang kematian, perpisahan, dan kematian

6. Mulai memberikan harta berharga kepada saudara atau teman

7. Kehilangan gairah untuk melakukan aktivitas yang sebelumnya sangat disukai

8. Susah berkonsentrasi atau berpikir jernih

9. Mengalami perubahan pada kebiasaan makan atau tidur

10. Berani melakukan sesuatu yang sangat berisiko

11. Hilang minat untuk belajar di sekolah atau berolahraga

"Dari paparan tersebut, penting bagi setiap orangtua sadar kalau anaknya memiliki tanda-tanda tersebut. Jadi, ketika anak Anda mulai bersikap mengarah ke percobaan bunuh diri, Anda bisa membantu mereka. Hadir untuk mereka," papar laman itu.

Jangan abaikan juga apa yang disampaikan si anak jika itu menyangkut persoalan bunuh diri atau menyakiti diri sendiri. Memang, kebanyakan kasus itu hanya untuk mencari perhatian, tetapi sekali lagi, jangan malah diabaikan atau bahkan dihindari obrolan seperti itu.

"Kunjungi dokter anak atau dokter kesehatan mental juga sangat disarankan jika si anak sudah memiliki tanda-tanda kecenderungan melakukan bunuh diri," tambahnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini