Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Peneliti Ungkap Dampak Buruk Terlalu Gabut dalam Sehari

Tim Okezone, Jurnalis · Jum'at 17 September 2021 00:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 16 620 2472561 peneliti-ungkap-dampak-buruk-terlalu-gabut-dalam-sehari-f1N3KgUQk6.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

PANDEMI Covid-19 memang membuat kita harus banyak mengurangi aktivitas di luar ruangan. Banyak orang pun lebih memilih menghabiskan waktu di rumah.

Apalagi, saat ini masih belum banyak cafe dan tempat nongkrong yang dibuka. Akibatnya, biasanya mereka yang sering nongkrong pun akan memiliki lebih banyak waktu di rumah dan tidak melakukan apa-apa.

Para anak-anak muda pun menyebut kegiatan ini dengan Gabut atau gaji buta. Memang awalnya ungkapan ini hanya untuk mereka yang bekerja. Tapi seiring waktu, gabut biasa dipakai bagi mereka yang tidak melakukan aktivitas apapun dan bingung ingin melakukan apa.

Mungkin terdengar menyenangkan, tapi sebenarnya banyaknya waktu luang bisa menjadi hal yang buruk bagi kesejahteraan mental seseorang, menurut penelitian dalam jurnal American Psychological Association.

"Kami menemukan, terlalu banyak waktu luang dalam satu hari menghasilkan stres yang lebih besar dan kesejahteraan subjektif yang lebih rendah," kata Marissa Sharif, PhD, seperti dikutip Antara dari Science Daily.

Gabut

Jadi, meskipun terlalu sedikit waktu itu buruk, memiliki lebih banyak waktu juga tidak selalu lebih baik.

Kesimpulan ini didapat setelah para peneliti menganalisis data dari 21.736 orang yang berpartisipasi dalam American Time Use Survey pada tahun 2012 dan 2013. Mereka menemukan, ketika waktu luang meningkat, kesejahteraan juga meningkat, tetapi itu sekitar dua jam dan mulai menurun setelah lima jam.

Para peneliti juga menganalisis data dari 13.639 pekerja Amerika yang berpartisipasi dalam National Study of the Changing Workforce antara tahun 1992 dan 2008. Di antara banyak pertanyaan survei, mereka menanyakan pada para partisipan tentang jumlah waktu luang mereka.  

Peneliti menemukan, jumlah waktu luang yang lebih tinggi secara signifikan terkait dengan tingkat kesejahteraan yang lebih tinggi, tetapi hanya sampai titik tertentu. Setelah itu, kelebihan waktu luang tidak dikaitkan dengan kesejahteraan yang lebih tinggi.

Untuk menyelidiki lebih lanjut fenomena tersebut, para peneliti melakukan dua eksperimen online yang melibatkan lebih dari 6.000 peserta. Dalam percobaan pertama, peserta diminta untuk membayangkan memiliki sejumlah waktu luang setiap hari selama setidaknya enam bulan.

Para peneliti menemukan, peserta dengan waktu luang yang tinggi merasa kurang produktif daripada mereka yang berada dalam kelompok sedang.

Pada percobaan kedua, peneliti melihat potensi peran produktivitas. Hasilnya, peserta dengan lebih banyak waktu luang melaporkan tingkat kesejahteraan yang lebih rendah ketika terlibat dalam kegiatan yang tidak produktif.

"Meskipun penyelidikan kami berpusat pada hubungan antara jumlah waktu luang dan kesejahteraan subjektif, eksplorasi tambahan kami tentang bagaimana individu menghabiskan waktu luang mereka terbukti terungkap," kata Sharif.

Temuan ini memperlihatkan, waktu luang sepanjang hari yang tidak diisi secara bijaksana dapat membuat seseorang tidak bahagia.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini