Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Baim Wong Kerap Bikin Konten Bagi-Bagi Uang, Ternyata Ini Dampak Psikologisnya

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Sabtu 16 Oktober 2021 16:07 WIB
https: img.okezone.com content 2021 10 16 620 2487302 baim-wong-kerap-bikin-konten-bagi-bagi-uang-ternyata-ini-dampak-psikologisnya-ofJgbTUd9j.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

YOUTUBER Baim Wong tersandung masalah, setelah viral kasusnya dengan kakek Suhud. Awalnya, orang tua tersebut nampak ingin meminta bantuan uang di jalanan. Tapi pada kenyataannya, kakek Suhud ternyata ingin menwarkan dagangan dia.

Memang, Baim Wong terkenal dengan kontennya yang kerap membagikan rezeki kepada beberapa orang. Biasanya, mereka yang dibantu adalah orang susah atau mereka yang memang butuh bantuan.

Pada dasarnya, berbagi memang wajib dilakukan, tetapi ada risikonya ketika seseorang berbagi dan dilihat banyak orang. Pasalnya, ketika orang tersebut mempopulerkan jika dia suka berbagi, bukan tidak mungkin banyak orang yang berharap berkah dari mereka.

Oleh karena itu, Psikolog dari Universitas Indonesia A. Kasandra Putranto mengatakan berbagi di media sosial bisa menimbulkan efek kebiasaan, di mana setiap kesulitan diatasi dengan meminta bantuan kepada orang lain tanpa adanya usaha terlebih dahulu.

Baim

"Berbagi pada dasarnya adalah hal yang baik sebagai makhluk sosial. Namun kita sudah diajarkan sejak kecil bahwa kita tidak seharusnya memamerkan hal tersebut," kata Kasandra.

Berbagi ini pun mirip dengan giveaway yang dulu populer dilakukan oleh Arief Muhammad dengan nama ikoy-ikoyan. Bedanya, giveaway bisa saja menjadi bagian dari strategi marketing. "Sebagai imbal jasa atas apa yang dilakukan orang lain, ada yang membuat menjadi tenar, menambah followers dan membangun image positif dan atau membeli kesetiaan," katanya memberikan contoh.

Menurut Kasandra, tren itu tergantung dari motif dan cara untuk melakukannya. Sebab, hal ini akan merefleksikan profil psikologis, baik intelegensi dan kepribadian seseorang. "Dengan meyakini prinsip law of attraction, kita akan memetik apa yang kita tanamkan. Berbagi karena pamrih, atau memang karena mengasihi sesama," ujarnya.

Selain Kasandra, Psikolog dan founder dari Klinik Psikologi Ruang Tubuh Irma Gustiana A, M.Psi mengatakan bahwa sebaiknya tren ini tidak menjadi kebiasaan di masyarakat.

"Tapi ini enggak boleh jadi kebiasaan sih sebenarnya ya. Jadi artinya kalau memang si influencer atau selebgram ingin menolong ya menolonglah dengan cara yang mungkin proporsional, yang tepat, sehingga tidak salah sasaran," kata Irma.

Irma menjelaskan, tren ini mungkin tidak menimbulkan gejala-gejala yang berisiko mengalami gangguan mental. Namun, hal ini dapat menurunkan karakter seseorang.

"Jadi kalau misalnya dia sekali terus dikasih, besokannya ah nyoba lagi nih sama siapa gitu kan. Terus ternyata mungkin direspon juga. Nanti kan lama-lama jadi kebiasaan," jelas dia.

"Dan kemudian mental seseorang ini bukan jadi mental yang tangguh gitu. Karena dia merasa bahwa meminta pada seseorang itu adalah jalan keluar," tukasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini