Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Sejarah Singkat kenapa Lada Miliki Gelar Raja Rempah

Tim Okezone, Jurnalis · Senin 22 November 2021 14:09 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 22 620 2505585 sejarah-singkat-kenapa-lada-miliki-gelar-raja-rempah-KhgfugHKpQ.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

BIASANYA segala sesuatu yang terbaik di bidangnya akan disebut sebagai raja. Tapi, julukan raja itu bukan hanya disematkan kepada orang saja loh, hewan hingga makanan pun ada yang mendapat gelar sebagai raja.

Sebut saja singa sebagai Raja Hutan atau durian yang mendapat gelar sebagai Raja Buah. Nah, ternyata rempah juga memiliki raja loh, yakni lada. Meski bentuknya kecil, lada punya manfaat dan pengaruh yang dahsyat di dunia sampai-sampai dijuluki sebagai "raja rempah".

Pengurus Pusat Dewan Rempah Indonesia (DRI) Heru D. Wardana menuturkan, sumber-sumber dari abad ke-5 juga merekomendasikan lada untuk mengatasi masalah kesehatan.

"Sebagai pengobatan, lada hitam mengandung antioksidan tinggi," kata Heru seperti dilansir dari Antara.

Lada

Lada juga yang dulu membuat penjajah datang untuk menguasai Nusantara sebagai wilayah penghasil rempah. Sebagai "raja" dari rempah, lada memang punya banyak kandungan yang bermanfaat, baik untuk masakan, obat, hingga kecantikan.

Banyak kegunaan dari lada untuk kesehatan, termasuk untuk saluran pernapasan hingga pencernaan. Heru mengatakan, ini menjadi tantangan untuk para peneliti agar bisa mengekstrak bahan-bahan aktif pada lada agar bisa dibuat menjadi produk obat yang bermanfaat bagi kesehatan.

Ada beberapa jenis lada, yakni lada putih, lada hitam dan lada hijau. Perbedaannya adalah dari proses mengolahnya. Lada hitam dipanen saat buah lada belum terlalu matang, warnanya masih kehijauan, tapi sudah mengeras.

Lada kemudian dipanasi dan dikeringkan sehingga kulitnya mengkerut. Secara tradisional, lada hitam biasa dipakai untuk pengobatan konstipasi, diare, insomnia hingga sakit gigi.

Lada putih dibuat dari buah lada yang dipanen saat matang, kemudian direndam dalam air mengalir, kulitnya dibuang, dicuci dan dijemur. Itulah alasannya aroma lada putih tidak setajam lada hitam, sebab ada bagian-bagian yang sudah dibuang. Lada hijau juga dibuat dari buah yang belum terlalu matang saat dipanen, tetapi langsung dikeringkan.

Menurut Peneliti Utama Balai Penelitian Tanaman Rempah dan Obat (BALITTRO) Kementerian Pertanian, Otih Rostiana, kualitas lada di Indonesia telah diakui dunia. Lada putih Bangka menjadi referensi mutu lada putih terbaik dimana aromanya bisa tercium dari jauh karena mengandung minyak atsiri yang tinggi, sementara lada hitam Lampung jadi referensi mutu lada hitam berkualitas.

Heru dan Otih menyatakan, Indonesia pernah menjadi produsen top lada, tapi kini justru tertinggal dari Vietnam. "Vietnam dulu belajar menanam lada ke Bogor, sekarang dia yang menguasai," ujar Heru.

Dia berharap rempah-rempah di Indonesia terus dieksplorasi agar berguna tak hanya untuk bumbu masakan, tetapi produk-produk lain seperti untuk kecantikan dan kesehatan untuk memberikan nilai tambah.

"Ketika jadi bahan obat, nilai tambahnya sangat besar. Bila produknya semakin luas, itu akan memberdayakan petani sehingga makin sejahtera," kata Heru.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini