Share
Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mulai Usia Berapa Kita Harus Rajin Lakukan Medical Check-Up?

Tim Okezone, Jurnalis · Jum'at 11 Maret 2022 16:11 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 11 620 2560156 mulai-usia-berapa-kita-harus-rajin-lakukan-medical-check-up-99MrDbS1wR.jpg Ilustrasi Medical Check-Up. (Foto: Shutterstock)

SKIRINING kesehatan atau biasa disebut medical check-up memang harus dilakukan secara rutin. Dengan skrining kesehatan, maka ini bisa menjadi upaya menemukan dini berbagai penyakit tidak menular (PTM) termasuk gangguan ginjal yang bisa berujung gagal ginjal bila terlambat ditemukan dan tak mendapatkan penanganan tepat.

Pelaksana Tugas (Plt.) Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tidak Menular, Kemenkes RI dr. Elvieda Sariwati MEpid, menyarankan mereka yang berusia 15 tahun mulai melakukan skrining kesehatan secara rutin.

"Deteksi dini mulai usia 15 tahun. Deteksi dini di masyarakat melalui kegiatan di Pos Binaan Terpadu (Posbindu). Kegiatan ini bertujuan untuk mendeteksi dini penyakit risiko dari penyakit ginjal kronik antara lain hipertensi, diabetes dan obesitas," kata Elvieda.

Skrining mencakup wawancara terkait faktor risiko penyakit tidak menular pada diri sendiri dan keluarga, pengukuran berat badan, tinggi badan dan lingkar perut, untuk mengetahui indeks massa tubuh (IMT) dan ada tidaknya kencenderungan ke arah obesitas sentral, pemeriksaan gula darah dan tekanan darah.

Check up

Selanjutnya, akan ada identifikasi faktor risiko penyakit tidak menular, pemberian edukasi serta tindak lanjut berupa rujukan pada Fasilitas Kesehatan Tingkat Pertama (FKTP) jika ditemukan indikasi faktor risiko. "Jadi bisa dideteksi dari awal. Pemeriksaan dini untuk yang sehat minimal setahun sekali," tutur Elvieda.

Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan saat ini melakukan transformasi kesehatan yang salah satu pilarnya meningkatkan layanan kesehatan primer dengan menitikberatkan pada upaya promotif dan preventif.

Populasi yang disasar yakni mereka yang sehat dan berisiko. Pada mereka yang sehat yakni belum memiliki gejala penyakit dilakukan upaya promosi kesehatan agar tetap sehat dan tidak masuk ke dalam kategori populasi berisiko.

Sementara pada pada populasi yang sudah berisiko dilakukan pencegahan primer melalui deteksi dini baik itu faktor risikonya maupun penyakitnya sehingga diharapkan penyakit dapat ditanggulangi. Pada para penyandang penyakit, maka diupayakan agar bisa diobati supaya penyakit tidak menjadi lebih berat.

"Penyakit yang mendasari penyakit ginjal kronik yakni hipertensi dan diabetes. Pelayanan kesehatan bagi pasien hipertensi dan diabetes yang di dalamnya juga mulai dari deteksi dini sampai pengendaliannya supaya pasien aktif berobat agar terkendali tekanan darah dan gula darahnya sehingga tidak masuk ke komplikasi," jelas Elvieda.

Selain skrining kesehatan, dia juga menyarakan masyarakat melakukan pola hidup sehat agar tak terkena penyakit tidak menular termasuk penyakit ginjal, diabetes, hipertensi dan obesitas antara lain dengan melakukan diet dengan gizi seimbang untuk menurunkan risiko, melakukan aktivitas fisik dengan aman, menghindari merokok dan minuman beralkohol.

Saat ini Indonesia masih menghadapi tantangan kesehatan terkait penyakit tidak menular. Angka penyakit ini sejak tahun 2010 mulai meningkat antara lain akibat pola makan, pola asuh, pola gerak dan pola makan seperti tinggi kalori, rendah serat, tinggi garam, tinggi gula dan tinggi lemak, demikian diungkap Direktur Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat Kementerian Kesehatan, dr. Imran Agus Nurali, Sp. KO.

Menurut Imran, perilaku ini juga diikuti dengan gaya hidup sedenter, memilih makanan junk food atau siap saji, kurangnya aktivitas fisik, stres dan kurangnya istirahat sehingga memicu timbulnya penyakit hipertensi, diabetes, obesitas, kanker, penyakit jantung dan hiperkolesterol.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini