Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Abaikan Remehkan Genital Warts, Bisa Berakhir Jadi Kanker Serviks

Siska Permata Sari, Jurnalis · Rabu 15 Juni 2022 17:24 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 15 620 2612193 abaikan-remehkan-genital-warts-bisa-berakhir-jadi-kanker-serviks-r5GCTuzowo.jpg Ilustrasi Kanker Serviks. (Foto: Shutterstock)

PENYAKIT infeksi menular seksual (IMS) biasanya disebabkan oleh Human Papilloma Virus (HPV). Sering muncul tanpa keluhan, kutil kelamin ini kerap disepelekan. Padahal, bila tidak segera ditangani, genital warts bisa bertransformasi menjadi penyakit yang ganas, salah satunya kanker serviks bagi perempuan.

dr Amelia Soebyanto, SpDV, selaku Spesialis Kulit dan Kelamin Klinik Pramudia menjelaskan, tipe HPV yang paling sering mengakibatkan genital warts yakni tipe 6 dan tipe 11 yang berisiko rendah. Insidensi genital warts akibat tipe tersebut sebanyak 90-95 persen kasus. Sementara itu, sebagian kecilnya disebabkan HPV jenis risiko tinggi seperti tipe 16, 18, 31, 33, dan sebagainya.

“Sekitar 50 persen dari kasusnya menunjukan, genital warts ini mampu bertransformasi menjadi penyakit yang ganas, salah satunya kanker serviks,” kata dalam webinar.

Tipe HPV yang menyebabkan genital warts memang tidak sama dengan tipe HPV yang menyebabkan kanker serviks. Namun dalam beberapa kasus, ketika genital warts terjadi pada leher rahim atau di dalam vagina, hal ini dapat menyebabkan perubahan serviks atau displasia, yang pada akhirnya bisa berujung pada kanker serviks.

“Tipe HPV yang berisiko rendah pun jika tidak mendapat penanganan tepat, bisa membuat genital warts mengalami komplikasi dan juga berkembang menjadi kanker serviks,” ujarnya. “Apalagi kalau ada riwayat, yang membuat risiko terkena kanker serviks semakin besar,” kata dr Amelia.

Kanker Serviks

Oleh karena itu, penting untuk rutin memeriksa kondisi kesehatan kelamin ke dokter demi mencegah penyakit-penyakit menular seksual maupun penyakit ganas seperti kanker. “Salah satu yang penting dilakukan adalah deteksi dini genita warts. Beberapa pemeriksaan penunjang di antaranya adalah test asam asetat, pap smear, patologi, pemeriksaan dengan alat pembesaran optik (kolposkop), dan identifikasi genom HPV,” jelasnya.

Namun, sambung dia, yang perlu sering dilakukan secara rutin yaitu pemeriksaan klinis, tes asam asetat dan pap smear. “Diagnosis yang tepat merupakan langkah awal sebelum pemberian terapi,” ujarnya.

Menurutnya, genital warts memang tidak langsung menimbulkan keluhan bagi penderitanya. Bahkan dalam banyak kasus, kadang genital warts ini juga terlalu kecil sehingga sulit terlihat.

“Tanda adanya genital warts adalah benjolan halus atau kasar berwarna kulit, merah muda, maupun keabuan. Ada juga yang bentuknya seperti kembang kol, yang bila semakin lama bisa semakin banyak dan membesar dengan cepat dalam beberapa minggu sampai beberapa bulan,” ujarnya.

Selain itu, sambung dia, pada beberapa kasus, ada beberapa gejala yang perlu disadari. Di antaranya timbulnya gatal atau ketidaknyamanan di area genital dan perdarahan saat berhubungan.

Terkait faktor risiko, dr Amelia memaparkan ada beberapa orang yang berisiko tinggi untuk mendapatkan genital warts. Mereka adalah yang aktif secara seksual dan memiliki kebiasaan berganti-ganti pasangan seksual tanpa menggunakan pengaman (kondom), memiliki riwayat infeksi menular seksual, serta memiliki gaya hidup yang kurang sehat seperti sering mengonsumsi alkohol dan merokok.

“Penularan genital warts, selain dari hubungan seksual yang menyebabkan kontak langsung dengan mukosa dari penderitanya, juga bisa ditularkan dari ibu ke bayinya saat melahirkan,” sambungnya.

Selain itu, meskipun jarang terjadi, kontak langsung maupun tidak langsung melalui benda- benda yang terkontaminasi dengan HPV juga dapat menularkannya ke orang lain. “Mereka yang sudah terinfeksi dan mengalami genital warts juga harus waspada karena bisa kambuh,” ujarnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini