Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Penetapan Harga Acuan Kedelai Rp10.000/Kg Disebut Bisa Timbulkan Masalah Baru

Advenia Elisabeth, Jurnalis · Jum'at 30 September 2022 08:19 WIB
https: img.okezone.com content 2022 09 30 620 2677849 penetapan-harga-acuan-kedelai-rp10-000-kg-disebut-bisa-timbulkan-masalah-baru-b3wQKX0o2j.jpg Kedelai. (Foto: Freepik)

JAKARTA - Rencana pemerintah untuk menetapkan harga acuan pembelian kedelai lokal dinilai tidak mengatasi akar permasalahan.

Bahkan hal itu justru bisa berpotensi menimbulkan masalah baru bagi pengrajin dan konsumen.

Adapun harga acuan pembelian yang direncanakan pemerintah yakni sebesar Rp10.000 per kilogram dengan tujuan untuk memberikan kepastian pendapatan bagi petani di saat harga kedelai sedang tinggi.

Menurut Head of Agriculture Research dari Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Aditya Alta, di saat harga tinggi seperti sekarang ini, harga acuan tersebut dapat menjamin pendapatan petani.

 BACA JUGA:Jokowi Ingin Kedelai di RI 100% Tidak Tergantung Impor

Namun, di sisi lain, hal ini memberatkan pengrajin serta konsumen yang berpenghasilan rendah karena harus membeli bahan baku kedelai dengan harga tinggi.

"Dalam menetapkan harga acuan pembelian, pemerintah perlu memikirkan kebijakan jangka panjang untuk meningkatkan efisiensi proses produksi dan produktivitas kedelai. Hal ini tidak mudah mengingat berbagai keterbatasan yang ada," ujar Aditya, Kamis (29/9/2022).

Lebih lanjut, dia menilai, penggunaan teknologi pada pertanian kedelai masih terbilang minim.

Hal tersebut juga tidak didukung oleh infrastruktur pendukung yang memadai.

Di sisi lain, petani lebih mengutamakan budidaya padi dan jagung yang terbilang lebih menguntungkan.

Sedangkan kedelai umumnya diperlakukan sebagai tanaman selingan.

"Selain itu, iklim tropis di Indonesia secara umum tidak terlalu cocok untuk kedelai yang hanya tumbuh subur di daerah sub-tropis, misalnya di Amerika Serikat, salah satu produsen terbesar dan eksportir utama kedelai ke Indonesia," papar Aditya.

Selain itu, dia bilang, drainase yang buruk juga menyebabkan tanah juga menjadi kurang ideal untuk pertumbuhan kedelai.

Produksi kedelai di Indonesia harus menyesuaikan dengan pola dan rotasi tanam.

Penelitian CIPS merekomendasikan upaya peningkatan produktivitas lahan maupun tenaga kerja melalui penggunaan benih unggul, peningkatan akses petani terhadap pupuk, penanganan serangan hama / Organisme Pengganggu Tanaman (OPT) dan penggunaan alat mesin pertanian atau mekanisasi.

Selain itu, juga dapat dilakukan perbaikan teknik budidaya, perbaikan dan perluasan jaringan irigasi, penggunaan modifikasi cuaca untuk mitigasi perubahan iklim dan peningkatan kapasitas sumber daya manusia sektor pertanian.

"Perlu diingat, kedelai adalah jenis tanaman yang membutuhkan kelembaban tanah yang cukup dan suhu yang relatif tinggi untuk pertumbuhan yang optimal. Sementara itu di Indonesia, curah hujan yang tinggi pada musim hujan sering berakibat tanah menjadi jenuh air," jelasnya.

Dia menambahkan, produksi kedelai domestik kian merosot tiap tahunnya. Berdasarkan data USDA, Indonesia menghasilkan 580.000 ton kedelai di tahun 2015 dan merosot 18%menjadi hanya 475.000 ton pada tahun 2020.

Berdasarkan data yang dihimpun CIPS melalui Food Monitor, penurunan ini berbanding terbalik dengan jumlah total konsumsi nasional pada 2020 yang meningkat sebesar 15%mencapai 3.283.000 juta ton dari total konsumsi 2015 yang berjumlah 2.854.000 juta ton.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini