Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bantah Kecolongan, BPOM Sebut Ada 168 Obat Sirup yang Aman Dikonsumsi

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Kamis 17 November 2022 17:23 WIB
https: img.okezone.com content 2022 11 17 620 2709615 bantah-kecolongan-bpom-sebut-ada-168-obat-sirup-yang-aman-dikonsumsi-bNCVjt1uhE.jpg Ilustrasi Obat Sirup. (Foto: Shutterstock)

KASUS Gagal Ginjal Akut (GGA) yang terjadi di Indonesia memang disebut terjadi karena cemaran etilen glikol (EG) dan dietilen glikol (DEG) yang ada dalam obat sirup. Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) sebagai lembaga yang menjaga pun dianggap teledor.

Menurut BPOM permasalahan muncul karena adanya gap (celah) dari hulu ke hilir. Ketua BPOM Penny Lukito menjelaskan dalam prosesnya, ada berbagai pihak terlibat yaitu Industri Farmasi, Pemasok (supplier bahan baku), dan Importir. BPOM tidak kecolongan, sebab tidak terlibat dalam pengawasan bahan pelarut yang digunakan industri farmasi.

"Di sini ada satu gap tadi ya, gap itu adalah sesuatu kesenjangan yang mana BPOM tidak terlibat dalam pengawasan. Kalau BPOM terlibat dalam pengawasan pemasokan dari bahan pelarut, pastinya ada pengawasan yang dilakukan pemasukan dengan surat keterangan import. Kalau dilakukan dgn surat keterangan import itu, pasti sudah ada pengawasan dari BPOM di awal," jelas Ketua BPOM Penny dalam Konferensi Pers di Jakarta, Kamis (17/11/2022)

Lebih lanjut, Penny menegaskan bahwa penggunaan bahan campuran tersebut tidak masuk dalam pengawasan BPOM. Dimana bahan campuran (EG dan DEG) bisa didapatkan oleh farmasi dari pihak lain atau memproduksi sendiri.

"Jadi bukan karena BPOM tidak melakukan pengawasan tapi karena aturan yang ada tidak ada dalam pengawasan BPOM pada titik awal terjadinya kejahatan ini, terjadinya kasus ini, adanya pemasokan yang tidak memenuhi ketentuan dan kemudian terdistribusikan," kata Penny menambahkan.

Kendati demikian, Penny menilai bahan EG dan DEG jadi pilihan perusahaan farmasi untuk obat karena banyak faktor. Salah satu indikasi akibat bahan baku yang langka sampai perbedaan harga di supplier. "Adanya kelangkaan bahan baku obat dan perbedaan harganya jadi salah satu indikasi gap adanya akses atau modus kejahatan. Bisa dikaitkan dengan penggunaan bahan tersebut (eg & deg)," ucapnya.

Menurutnya, saat inia da 168 produk obat sirup dinyatakan tidak mengandung 4 pelarut, sehingga tidak mengandung etilen glikol maupun dietilen glikol. "Artinya, 168 obat sirup tersebut aman untuk dikonsumsi karena bebas dari 4 pelarut yang berpotensi mengandung cemaran EG dan DEG," jelas dia.

Penny menerangkan bahwa 168 obat sirup yang sudah dinyatakan aman dikonsumsi ini berasal dari 60 nama produsen di Indonesia. Obat-obatan tersebut pun boleh diedarkan ke masyarakat. "Ini sudah pasti aman karena tidak mengandung 4 pelarut," jelasnya.

BPOM hingga kini terus melakukan pengawasan mutu obat. Update terbaru juga menjelaskan bahwa BPOM menemukan ada satu perusahaan yang dalam 1 batch obat disimpan di 3 drum.

"Nah, 2 dari drum tersebut sudah sesuai standar kadar EG dan DEG-nya. Tapi 1 drum EG dan DEG kadarnya sangat tinggi. Artinya, kami akan memastikan satu per satu setiap obat sebelum akhirnya benar-benar diedarkan ke masyarakat," ungkap Penny.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini