Kumpulan Berita
Presiden Prabowo Subianto berencana mengambil langkah penghematan konsumsi bahan bakar minyak (BBM) sebagai respons terhadap dampak konflik yang terjadi di Timur Tengah terhadap harga energi dunia. Rencana tersebut disampaikan dalam Sidang Kabinet Paripurna di Istana Negara, Jakarta, pada Jumat (13/3/2026).
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia angkat suara terkait kebijakan sejumlah negara tetangga yang mulai menerapkan work from home (WFH) bagi aparatur sipil negara (ASN) di tengah memanasnya konflik di Timur Tengah yang berdampak pada pasokan energi global.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan bahwa stok bahan bakar minyak (BBM) nasional dalam kondisi aman. Ia memastikan cadangan BBM saat ini cukup untuk sekitar 23 hari sehingga masyarakat tidak perlu melakukan panic buying.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan harga BBM subsidi seperti Pertalite tidak akan naik meski saat ini harga minyak dunia sudah tembus USD100 per barel. Harga minyak melebihi asumsi makro di APBN yang dipatok USD70 per barel.
Pemerintah saat ini mencari cara agar kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak terjadi di tengah tingginya harga minyak dunia yang dapat memperlebar defisit APBN 2026. Opsi kenaikan harga BBM subsidi bisa terjadi bila harga minyak naik menjadi USD 92 per barel.
Badan Perlindungan Konsumen Nasional Republik Indonesia (BPKN) mengimbau masyarakat untuk tidak panic buying bahan bakar minyak (BBM) akibat isu potensi gangguan pasokan energi akibat konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) memastikan keandalan produksi BBM dari Kilang Dumai, Riau dalam rangka menjaga kelancaran pasokan BBM nasional di tengah eskalasi geopolitik di kawasan Timur Tengah (Timteng).
Cadangan Bahan Bakar Minyak (BBM) nasional mencapai 20 hari, lalu setelah lewat 20 hari apakah habis? Cadangan BBM nasional dibahas di tengah memanasnya konflik Timur Tengah.