Kumpulan Berita
Pemerintah belum berencana menaikkan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi dalam waktu dekat. Penegasan ini menyusul lonjakan harga minyak mentah global akibat ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat, Israel, dan Iran.
BBM diharapkan dapat dipenuhi dari sumber energi dalam negeri, seperti sawit, tebu, singkong, hingga jagung, sehingga tidak lagi tergantung luar negeri.
Prabowo Subianto mengungkapkan, kebutuhan BBM di Indonesia nanti tidak akan lagi bergantung dengan impor melainkan dari sawit hingga tebu.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan harga BBM subsidi seperti Pertalite tidak akan naik meski saat ini harga minyak dunia sudah tembus USD100 per barel. Harga minyak melebihi asumsi makro di APBN yang dipatok USD70 per barel.
Harga minyak mentah dunia naik lebih dari 20 persen dan sentuh level USD111 per barel pada perdagangan Senin. BBM pertalite jadi berapa?
Pemerintah saat ini mencari cara agar kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) tidak terjadi di tengah tingginya harga minyak dunia yang dapat memperlebar defisit APBN 2026. Opsi kenaikan harga BBM subsidi bisa terjadi bila harga minyak naik menjadi USD 92 per barel.
Badan Perlindungan Konsumen Nasional Republik Indonesia (BPKN) mengimbau masyarakat untuk tidak panic buying bahan bakar minyak (BBM) akibat isu potensi gangguan pasokan energi akibat konflik antara Amerika Serikat-Israel dengan Iran.
Cadangan BBM nasional sekitar 20 hari bukan berarti bahwa setelah itu BBM akan habis. Sebab, Pertamina terus melakukan stabilisasi stok BBM.