Kumpulan Berita
Badan Pangan Nasional (Bapanas) terus mengusut peredaran beras fortifikasi yang diduga bermasalah. Hingga pekan pertama Agustus 2026, Bapanas telah mengumpulkan lebih dari 100 sampel beras fortifikasi yang berasal dari delapan produsen terdaftar dalam Sistem Informasi Pangan Segar Asal Tumbuhan (SIPSAT).
Bulog kembali menyerap gabah petani dalam negeri yang jika dikonversikan setara beras mencapai 3,67 juta ton, termasuk beras komersial.
Mentan Andi Amran Sulaiman menegaskan bahwa harga beras harus sama dan sesuai ketentuan Harga Eceran Tertinggi (HET) di seluruh Indonesia.
Produksi beras Indonesia diproyeksikan meningkat menjadi 38,6 juta ton pada musim 2026/2027.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menegaskan akan menyikat habis mafia beras fortifikasi dalam satu hingga dua pekan ke depan. Langkah tersebut menyusul temuan penyimpangan dalam peredaran beras fortifikasi.
Praktik tersebut tidak hanya merugikan konsumen, tetapi juga diduga menghasilkan keuntungan
Kementerian Pertanian bersama Badan Pangan Nasional (Bapanas), Satgas Pangan Polri, pemerintah daerah, serta aparat penegak hukum memperluas pengawasan terhadap dugaan penyimpangan dalam peredaran beras fortifikasi di berbagai daerah.
Menteri Pertanian (Mentan), Andi Amran Sulaiman menegaskan akan mencabut izin usaha perusahaan beras fortifikasi yang terbukti tidak memenuhi standar. Langkah tegas tersebut diambil setelah hasil pengawasan menemukan sekitar 80 persen sampel beras fortifikasi yang diperiksa tidak sesuai ketentuan.