Kumpulan Berita
Konsumsi minuman manis kemasan secara berlebihan dinilai menjadi salah satu pemicu meningkatnya kasus diabetes dan gagal ginjal di Indonesia. Kebiasaan ini kerap terjadi tanpa disadari, terutama saat aktivitas kerja seperti rapat atau pertemuan, di mana minuman manis kerap tersaji di atas meja.
Penyakit diabetes kerap kali dikaitkan dengan konsumsi makanan dan minuman manis yang dapat meningkatkan gula darah. Masyarakat pun cenderung mengaitkan penyakit tersebut dengan makanan maupun minuman yang tinggi gula.
Wabah virus Human Metapneumovirus (HMPV) yang sedang merebak di China. Ternyata virus ini berisiko untuk pasien dengan penyakit tertentu.
Musim liburan di bulan Desember, mulai dari Natal hingga Tahun Baru, identik dengan makanan lezat dan momen berkumpul bersama orang tercinta. Namun, bagi banyak orang, terutama mereka yang sensitif terhadap gula darah atau mengidap diabetes, periode ini juga bisa menjadi tantangan kesehatan.
Memasuki bulan Desember identik dengan menyambut musim liburan Natal dan Tahun Baru (Nataru). Tentunya liburan juga identik dengan makanan lezat, pesta, dan pesta makan bersama keluarga atau teman.
Viral di media sosial perdebatan terkait konsumsi minuman isotonik yang beredar di pasaran. Minuman tersebut mengklaim mengandung vitamin C yang tinggi, namun komposisinya ternyata didominasi oleh gula dengan berat 40 gram per botolnya.
Konsumsi gula berlebihan dapat memicu berbagai penyakit serius seperti diabetes, tekanan darah tinggi, obesitas, penyakit hati berlemak, dan peradangan kronis. Batasi asupan gula untuk kesehatan jantung dan organ vital lainnya.
Striker Timnas Indonesia Ole Romeny terapkan diet tanpa gula demi pulih dari patah tulang. Benarkah mengurangi gula bisa mempercepat penyembuhan? Simak penjelasan medis dan statistik terkait diabetes dan risiko patah tulang.