Kumpulan Berita
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 52 poin atau sekitar 0,29 persen ke level Rp17.795 per dolar AS pada akhir perdagangan Selasa (26/5/2026).
Mata Uang Garuda diproyeksikan masih berada dalam tekanan berat dan rawan terperosok lebih dalam hingga menembus level psikologis baru dalam beberapa hari ke depan.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS ditutup melemah 27 poin atau sekitar 0,15 persen ke level Rp17.744 per dolar AS pada akhir perdagangan Senin (25/5/2026).
Chief Economist Permata Bank, Josua Pardede mengkritik opini sejumlah influencer dan pengamat saham di media sosial yang menyebut kejatuhan nilai tukar Rupiah membawa dampak positif bagi perekonomian nasional. Narasi yang mengklaim pelemahan kurs otomatis menguntungkan kinerja ekspor tersebut dinilai sebagai pandangan yang keliru karena abai terhadap potret riil struktur industri domestik.
Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia) menekankan dua persoalan besar yang saat ini mengancam masa depan pekerja Indonesia, yaitu meningkatnya gelombang pemutusan hubungan kerja (PHK) dan diberlakukannya Permenaker No. 7 Tahun 2026 yang semakin memperluas praktik outsourcing.
Nilai tukar Rupiah diproyeksikan masih akan tertahan di kisaran level Rp17.000 per Dolar Amerika Serikat (AS) dalam jangka pendek. Ketidakpastian sentimen, baik yang bersumber dari dinamika global maupun gejolak domestik, disinyalir menjadi faktor penahan apresiasi mata uang Garuda untuk kembali ke level normalnya.
Kebijakan ini menjadi benteng krusial guna menahan tekanan berlebih terhadap fluktuasi nilai tukar rupiah.
Bank Indonesia (BI) pun mengimbau masyarakat tidak terburu-buru melakukan aksi borong Dolar Amerika Serikat