Kumpulan Berita
Kemenkeu mengungkapkan tingkat ketergantungan pasar keuangan Indonesia terhadap pemodal asing dalam pembiayaan Surat Berharga Negara (SBN) menunjukkan tren penurunan
Bank Indonesia (BI) berkomitmen menekan tingkat imbal hasil (yield) dan memangkas nilai outstanding Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI).
Hingga 14 September 2026, akumulasi modal asing yang masuk melalui Surat Berharga Negara (SBN) dan Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) mencapai Rp140,7 triliun
Kementerian Keuangan mencatat posisi utang pemerintah per 30 Juni 2026 menembus Rp10.293,69 triliun, terdiri atas Surat Berharga Negara (SBN) sebesar Rp8.966,79 triliun (87,11 persen) dan pinjaman sebesar Rp1.326,90 triliun (12,89 persen). Dalam semester I 2026, total utang tersebut membengkak Rp655,79 triliun.
Purbaya mengungkapkan, pemerintah masih aktif menjalankan strategi intervensi dengan melakukan aksi beli instrumen Surat Berharga Negara.
Kementerian Keuangan telah resmi mengaktifkan instrumen Bond Stabilization Fund (BSF) guna membantu Bank Indonesia (BI) meredam gejolak nilai tukar Rupiah terhadap Dolar Amerika Serikat. Langkah intervensi taktis ini difokuskan pada pasar obligasi domestik dengan tujuan utama menjaga tingkat imbal hasil (yield) Surat Berharga Negara (SBN) agar tetap kompetitif.
Kemenkeu memasang target ambisius sebesar Rp25 triliun dari penjualan produk Surat Berharga Negara (SBN) ritel terbaru.
Danantara Indonesia menilai bahwa penempatan sebagian dana pada instrumen Surat Berharga Negara (SBN) merupakan praktik standar.