Kumpulan Berita
Tsunami yang menerjang Pangandaran pada Senin 17 Juli 2006, menjadi pengingat bahwa ancaman megathrust adalah nyata. Tsunami Pangandaran 20 tahun lalu ini dipicu gempa megathrust bertipe tsunami earthquake di zona subduksi selatan Jawa Tengah dan Jawa Barat.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menandai peringatan 20 tahun peristiwa tsunami di Pangandaran, Jawa Barat, sebagai refleksi untuk terus membangun ketangguhan masyarakat di wilayah pesisir. Jika tragedi Tsunami Aceh 2004 menjadi titik awal inisiasi pembangunan Sistem Peringatan Dini Tsunami Indonesia (InaTEWS) dari hulu hingga hilir, maka tsunami Pangandaran yang terjadi 2 tahun pasca-tsunami Aceh menjadi tonggak penting percepatan pembangunan InaTEWS hingga akhirnya dapat diresmikan pada 2008.
BMKG mengoperasikan radar laut canggih berupa teknologi pemantauan mutakhir High Frequency (HF) Radar Array. Pengoperasian radar ini menandai langkah strategis BMKG dalam memperkuat sistem observasi laut nasional, mempercepat peringatan dini tsunami, serta melindungi keselamatan nelayan dan aktivitas pelayaran di wilayah pesisir barat Sumatera.
Gempa kekuatan M5,1 mengguncang Laut Sulawesi, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara, Selasa, 9 Juni 2026, pukul 13.15 WIB.
Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) menyatakan, peringatan dini tsunami pascagempa bumi di Mindanao, Filipina telah berakhir. Gempa bumi yang terjadi pada Senin (8/6/2026), pukul 06.37 WIB ini berdampak tsunami di sebagian wilayah Indonesia.
Peringatan dini tsunami dinyatakan berakhir pascagempa M7,7 di Mindanao, Filipina, pada Senin (8/6/2026). Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) mencatat tsunami terjadi di 9 wilayah Indonesia dengan ketinggian tsunami mulai dari 0,09 hingga 0,75 meter.
Direktur Gempa Bumi dan Tsunami BMKG Wijayanto mengatakan, gempa bumi ini dipicu oleh aktivitas subduksi lempeng Laut Filipina.
Sementara, hasil analisis BMKG menunjukkan gempa bumi ini memiliki parameter update dengan magnitudo M7,7.