Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Fenomena Viral Panic Buying dan Faktanya di Atas Kertas

Taufik Fajar, Jurnalis · Selasa 24 Maret 2020 18:54 WIB
https: img-z.okeinfo.net content 2020 03 24 620 2188450 fenomena-viral-panic-buying-dan-faktanya-di-atas-kertas-mxn6MmUorg.jpg Antrean Panjang di Sejumlah Supermarket. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Pada awal Maret 2020, jagad maya dihebohkan oleh viralnya masyarakat yang berbondong-bondong mengantre di supermarket untuk membeli sembako, sebagai bentuk kepanikan corona 19 atau biasa disebut panic buying.

Setelah itu, muncul viral seolah klarifikasi bahwa pemborong itu adalah pedagang yang biasa membeli banyak barang. Nyatanya di sejumlah supermarket baik ritel maupun grosir terjadi antrean panjang bertepatan dengan tanggal muda alias bertepatan dengan tanggal gajian.

Baca Juga: Alasan Australia Terkena Panic Buying saat Wabah Virus Corona

Benarkan terjadi telah terjadi panic buying? Data menunjukkan, Bank Indonesia (BI) merilis angka inflasi minggu pertama hingga minggu ke-tiga pada Maret 2020 sebesar 0,11%. Secara month to month tercatat 2,98%.

Gubernur BI Perry Warjiyo menjelaskan, data tersebut mencerminkan angka yang rendah dan terjaga. “Ini membuktikan pasokan bahan makanan cukup,” tegasnya saat telekonferensi, Selasa (24/3/2020).

Perry pun mengapresiasi kepada pemerintah pusat dan daerah yang bersama-sama menjaga suplai makanan dan harga tetap terkendali.

Baca Juga: Perlu Komitmen Bersama Cegah Panic Buying di Tengah Wabah Corona

Dari sisi nilai tukar, Rupiah juga dinyatakan stabil dari sisi bid dan over di pasar valuta asing. Hal ini, lanjutnya, bisa terjadi tidak hanya upaya BI tetapi juga para eksportir yang telah memasok dolar ke pasar, sehingga Rupiah tetap terjaga.

Perry menyatakan, BI memastikan akan terus berada di pasar untuk menstabilkan nilai tukar. Sikap itu juga berlaku di baik pasar tunai maupun secondary market.

(rhs)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini