Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cerita Ilmuwan Kabur ke Amerika untuk Ungkap Rahasia Virus Corona

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 15 Juli 2020 12:42 WIB
https: img.okezone.com content 2020 07 15 620 2246667 cerita-ilmuwan-kabur-ke-amerika-untuk-ungkap-rahasia-virus-corona-260xT0toLI.jpg Virus corona (Foto: Consumer Reports)

Ilmuwan China sekaligus Pakar Virologi dan Imunologi di Hong Kong School of Public Health, Li Meng Yan, bertolak ke Amerika Serikat setelah mengetahui jika nyawanya terancam. Ia dianggap terlalu banyak tahu rahasia yang disembunyikan terkait virus corona.

Bercerita kepada Fox News, beberapa jam sebelum dia naik pesawat Cathay Pacific pada 28 April ke Amerika Serikat, Yan telah merencanakan pelariannya. Ia mengemas tasnya dan menyelinap melewati sensor serta kamera video di tempatnya melakukan pengujian virus baru (virus corona) terkait dengan virus influenza.

Menurut Yan, laboratorium tempatnya bekerja merupakan rujukan Badan Kesehatan Dunia (WHO) yang spesialisasinya tentang virus influenza dan pandemi.

 Li Men Yang

Kabur dari laboratoriumnya, Yan yang sudah memegang paspor dan dompetnya bersiap untuk meninggalkan semua orang yang dicintainya. Dia terlalu banyak tahu rahasia yang disembunyikan Pemerintah China.

Jika tertangkap, dia tahu nasib setelahnya mulai dijebloskan ke penjara atau bernasib lebih buruk lagi, menjadi salah satu dari 'orang hilang'.

Yan menjelaskan, dia percaya Pemerintah China sudah tahu tentang virus corona jauh sebelum kasus pertama diumumkan negara itu. Dia juga menceritakan, bosnya yang merupakan pakar virus juga mengabaikan penelitian yang dia lakukan pada awal pandemi untuk bisa menyelamatkan hidup banyak orang.

Menurut Yan, para pakar virus dan ilmuwan sejatinya memiliki kewajiban untuk memberi tahu dunia bahwa virus corona bisa menular antar manusia, terutama ketika virus mulai menyebar pada awal tahun 2020, namun kebanyakan mereka bungkam.

Yan, sekarang dalam persembunyian, mengklaim pemerintah di negaranya berusaha merusak reputasinya. Mereka juga berusaha membungkam mulutnya. Yan percaya hidupnya dalam bahaya.

Dia khawatir tidak akan pernah bisa kembali ke rumahnya, dan kemungkinan besar tidak akan pernah melihat keluarga dan teman-temannya.

"Alasan saya datang ke Amerika Serikat adalah saya ingin menyampaikan pesan kebenaran mengenai Covid-19," katanya kepada Fox News dari lokasi yang dirahasiakan.

Dia menambahkan, jika dia mencoba menceritakan kisahnya di Tiongkok, dia akan dibuat menghilang alias ada kemungkinan dibunuh. Yan mengungkap, Pemerintah China tak mengizinkan para ahli dari luar negeri, termasuk yang di Hong Kong, melakukan penelitian soal virus corona di China. "Jadi aku mencari informasi dari teman-temanku."

Yan juga memiliki jaringan kontak profesional yang luas di berbagai fasilitas medis di China daratan, di mana ia dibesarkan dan menyelesaikan studinya.

Seorang temannya, ilmuwan di Center for Disease Control and Prevention di China, sudah mengetahui bahwa penularan virus corona dari manusia ke manusia sudah terjadi jauh sebelum Tiongkok atau WHO mengakui penyebaran virus corona seperti itu.

Dia melaporkan beberapa temuan awal ini tak direspons dengan baik oleh atasannya. Bosnya hanya mengangguk dan hanya menyuruhnya untuk terus bekerja.

Yan mengatakan, dia dan rekan-rekannya di seluruh China membahas virus corona tetapi mereka disuruh tak banyak bicara soal hal itu, termasuk mereka yang ada di Wuhan. Para dokter berkata, dengan perasaan tidak enak, "Kita tidak bisa membicarakannya (virus corona), tetapi kita perlu memakai masker."

Kemudian jumlah penularan dari manusia ke manusia mulai tumbuh secara eksponensial. Yan mulai menggali jawaban. "Ada banyak pasien yang tidak mendapatkan perawatan tepat waktu dan didiagnosis tepat waktu. Dokter rumah sakit takut, tetapi mereka tidak bisa bicara. Staf CDC takut," ujar Yan.

Dia mengklaim telah melaporkan temuannya kepada atasannya lagi. Namun dia malah diminta diam dan berhati-hati. Bosnya memintanya untuk tak melanggar garis merah (red zone) yang mengacu pada pemerintah. "Kami akan mendapat masalah, dan kami akan menghilang," ujar Yan.

Baca juga: Indahnya Pemandangan Slope Point, Penuh dengan Pohon-Pohon Aneh yang Memikat

Yan juga mengklaim, Co-Direktur laboratorium yang berafiliasi dengan WHO, Profesor Malik Peiris, tahu tetapi tidak melakukan apa-apa.

Di lain sisi, Peiris tidak menanggapi permintaan komentar terkait isu ini. Situs web WHO mencantumkan Peiris sebagai penasihat di WHO International Health Regulations Emergency Committee untuk Pneumonia 'due to' Novel Coronavirus 2019-nCoV.

Sementara itu, WHO dan China membantah keras klaim bahwa mereka menutupi keberadaan kasus virus korona pada awalnya. Bahkan WHO membantah bahwa Yan, Poon, atau Peiris pernah bekerja secara langsung untuk WHO.

"Profesor Malik Peiris adalah pakar penyakit menular yang telah berada di misi WHO dan kelompok ahli - seperti banyak orang terkemuka di bidangnya," kata juru bicara WHO Margaret Ann Harris dalam email.

"Itu tidak membuatnya menjadi anggota staf WHO, juga tidak mewakili WHO," tambah Harris.

Sebelum pergi ke Amerika, Yan sudah memohon kepada suaminya untuk pergi bersamanya. Suaminya merupakan ilmuwan terkemuka yang pada awalnya mendukung penelitiannya. Namun sang suami menolak pergi ke Amerika dengannya. Bahkan dia mengatakan, sikap Yan bisa membuat mereka terbunuh.

Terkejut dan sakit hati, Yan membuat keputusan pergi ke Amerika seorang diri tanpa suaminya. Dia mendapatkan tiketnya pada 27 April dan terbang keesokan harinya.

Ketika dia mendarat di Bandara Internasional Los Angeles setelah 13 jam perjalanannya, dia dihentikan oleh petugas bandara. Ketakutan mencengkeramnya, dia takut dikembalikan ke China dan masuk penjara.

"Mau tak mau aku harus mengatakan yang sebenarnya kepada mereka. Aku melakukan hal yang benar. Jadi aku minta mereka tak mengembalikan aku ke ke China. Aku datang untuk mengatakan kebenaran soal Covid-19. Dan tolong lindungi aku. Jika tidak, Pemerintah China bisa membunuhku," ungkap Yan.

FBI kemudian dipanggil untuk menyelidiki. Yan mengklaim bahwa mereka mewawancarainya berjam-jam, mengambil ponselnya sebagai bukti dan membiarkannya melanjutkan ke tujuannya. FBI mengatakan kepada Fox News bahwa mereka tidak dapat mengonfirmasi atau menyangkal klaim Yan.

Ketika Yan berusaha menemukan tempat yang aman di Amerika, dia mengatakan teman-teman dan keluarganya di rumah sedang dalam tekanan pemerintah.

Hong Kong School of Public Health juga sudah melucuti aksesnya. Mereka juga menyebut Yan saat ini bukan seorang karyawan mereka. "Dr Li Meng Yan tidak lagi menjadi anggota staf universitas," bunyi pernyataan itu.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini