Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bisakah Gilang Fethis Kain Jarik Sembuh?

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Sabtu 01 Agustus 2020 09:55 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 01 620 2255303 bisakah-gilang-fethis-kain-jarik-sembuh-MTGQYdLuqA.jpg Fetish kain jarik (Foto : @m_fikris/Twitter)

Perhatian netizen Indonesia tengah tertuju pada kasus fetish kain yang melibatkan seorang pria bernama Gilang. Kasus ini mendadak viral, setelah salah seorang korban memberanikan diri untuk speak up di Twitter.

Menurut Ahli Psikologi sosial dari Universitas Pancasila, Dr. Ade Iva Wicaksono, M.Psi, Gilang diduga mengalami gangguan seksual yang dikenal dengan istilah fethisistic disorder. Gangguan ini ditandai ketertarikan seksual sangat intense, pada benda-benda tidak hidup (non-living object) dan bagian tubuh tertentu.

"Fetishistic disorder contohnya seperti ketika seseorang terangsang (seksual araoused) melihat celana dalam wanita, bra, atau bagian tubuhnya. Dan selalu diiringi dengan fantasi. Untuk kasus Gilang mediumnya adalah kain jarik. Dan itu benar membuat dia terangsang," kata Ade saat dihubungi Okezone via sambungan telefon, Jumat 31 Juli 2020.

Menurut buku panduan psikologi, DSM-5 (diagnostic and statistical manual of mental disorder 5th edition), disebutkan ada dua ciri atau gejala yang menunjukkan seseorang mengalami fethisistic disorder.

Baca Juga : Heboh Kasus Fetish Kain Jarik, Ini Gejala Orang Mengalami Fetishistic Disorder

Pertama, seseorang yang memiliki gangguan fetish, biasanya telah mengalami dorongan atau fantasi seksual dalam kurun waktu yang cukup lama atau lebih dari 6 bulan.

"Dalam buku panduan DSM itu, fetish yang dialami seseorang biasanya terjadi dalam durasi paling sedikit 6 bulan saja. Tapi kalau sudah terjadi bertahun-tahun dan terus-menerus, ini sudah pasti ganggugan," ungkap Ade.

Kedua, bila fantasi seksual dan perilaku fetish itu membuat seseorang terganggu, baik secara fungsi sosial dan fungsi pribadi, dapat dipastikan dia mengalami fetishistic disorder.

"Nah, untuk kasus Gilang ini kan dia sudah melanggar hukum. Berarti fungsi sosial dia sudah terganggu. Dia bisa terkena pasal di KUHP terkait pelecehan seksual yang menjurus ke pemerkosaan, karena ada unsur paksaan. Kejadiannya juga sudah berlangsung lama dan terus menerus," kata Ade.

Lantas, apakah gangguan ini bisa disembuhkan? Terkait hal tersebut, Ade menjelaskan bahwa teknik pengobatan fethisistic disorder biasanya dilakukan dengan menggunakan dua metode sekaligus yakni, therapi obat dan Cognitive Behavioral Therapy (CBT).

"Untuk gangguan-gangguan seperti ini ada kombinasi yang disarankan, ada therapi obat dan CBT. Tujuannya adalah untuk merubah pola pikir si perilaku. Tapi ada catatannya, dia harus berada dalam terapi jangka panjang. Kalau terapi berhenti, bisa kambuh lagi. Jadi keduanya harus terus berjalan bersamaan dan terus menerus," tutur Ade.

Bisa berawal menjadi korban

Sementara itu, menurut dr. Alvina, Sp.KJ, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa, Fetishism bisa saja terjadi saat anak menjadi korban atau anak melihat perilaku seksual yang menyimpang.

Ada teori lain yang mengatakan bahwa seseorang mungkin mengalami kurangnya kontak seksual sehingga mencari pemuasan dengan cara yang lain.

Terdapat pula teori lainnya yang mengatakan bahwa terjadi keraguan tentang maskulinitas pada laki-laki yang mengalami Fetishism atau ada rasa takut adanya penolakan. Sehingga dia menggunakan objek yang tidak hidup untuk memberinya kepuasan seksual.

“Secara umum, penyimpangan seksual lebih banyak dialami laki-laki daripada perempuan dan terdapat teori yang mengatakan bahwa Fetishism berkembang sejak masa kanak-kanan namun ada pula yang mengatakan onset-nya adalah saat masa pubertas,” ujar dr. Alvina, Sp.KJ, Dokter Spesialis Kedokteran Jiwa seperti dikutip dari siaran pers yang diterima Okezone.

Fetish Kain Jarik

Untuk melakukan penyembuhan, gangguan Fetihistik bisa diterapi dengan berbagai modalitas psikoterapi baik individual maupun kelompok serta dapat dilakukan pemberian terapi obat-obatan dan hormon.

 "Untuk menghindari gangguan Fetihistik, hendaknya masyarakat menciptakan lingkungan yang ramah anak, peduli pada kesehatan anak baik secara fisik maupun mental, dan bersikap melindungi anak dari paparan kekerasan baik kekerasan fisik, mental, maupun seksual,” imbuh dr. Alvina.

1
2
Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini