Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menteri Agama Izinkan Madrasah Belajar Tatap Muka Asal Terapkan Protokol Ketat

Jum'at 07 Agustus 2020 09:45 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 07 620 2258350 menteri-agama-izinkan-madrasah-belajar-tatap-muka-asal-terapkan-protokol-ketat-VP2aLltXz1.JPG Menteri Agama, Fachrul Razi (Foto: Kemenag.go.id)

PEMERINTAH pusat menyetujui keinginan sejumlah madrasah atau sekolah untuk menggelar kegiatan belajar tatap muka langsung di tengah pandemi virus corona (Covid-19).

Menteri Agama (Menag), Fahcrul Razi membolehkan madrasah dari di tingkat dasar (ibtidaiyah) hingga menengah atas (aliyah) dibuka dengan catatan menerapkan protokol kesehatan secara tepat dan ketat.

Menag mengaku telah bersepakat dengan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) terkait izin pembukaan sekolah atau madrasah tersebut. Selain menerapkan protokol kesehatan Covid-19, sebelum dibuka pihak sekolah juga harus berkoordinasi dengan pihak terkait seperti pemerintah daerah (pemda) setempat.

“Untuk sekolah madrasah maupun umum yang akan buka, silakan buka. Tentu saja dengan memperhitungkan, lingkungan aman Covid, guru-guru aman Covid, muridnya aman Covid, kemudian membentuk protokol yang ketat,” kata Menag di Universitas Islam Negeri (UIN) Sultan Maulana Hasanuddin (SMH), Serang, Banten, Kamis, 6 Agustus 2020 dikutip dari Koran Sindo.

Baca juga: Alquran Menyebut Kata 'Biji-bijian' 12 Kali, Sains pun Membuktikannya

Ia menjelaskan, selama ini sudah ada ribuan pesantren yang dibuka dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19. Dari ratusan ribu santri yang sudah kembali ke pesantren, pihaknya baru menerima laporan hanya ada tiga santri yang diketahui positif Covid-19.

Sementara itu, Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren Kemenag, Waryono mengatakan, di antara kasus santri yang positif terpapar Covid-19 adalah di Pondok Pesantren Gontor di Ponorogo, Jawa Timur. Namun dari penelusuran, kasus di Gontor tersebut bukan berasal dari santri, tetapi dari orangtua yang mengantar anaknya.

“Makanya pondok-pondok tidak boleh ditengok oleh orang tua dan yang mengantar tidak boleh sampai masuk. Gontor sudah menerapkan protokol kesehatan yang ketat,” kata Waryono.

Kasus di Gontor menurutnya patut menjadi pelajaran bagi ponpes yang akan membuka pembelajaran tatap langsung kembali. Pasalnya, selama ini Gontor juga menerapkan standar kesehatan yang ketat. Sebelum masuk ke pondok, santri harus menjalani karantina terlebih dahulu di luar. Setelah dipastikan sehat baru boleh masuk ke asrama.

“Itu Gontor yang fasilitasnya bagus. Kalau pondok-pondok yang fasilitasnya kurang, saya memahami sangat potensial. Tapi sekali lagi kiai-kiai itu pasti hati-hati,” pesannya.

Para kiai dan pengelola pondok pesantren, sambung Waryono, pasti mengutamakan keselamatan para santri ketimbang proses belajar. Mereka akan bekerja sama dengan pemerintah daerah dan gugus tugas setempat dalam pembukaan pelaksanaan pendidikan di pondok.

Dukungan terhadap pembukaan sekolah tatap muka langsung juga disampaikan anggota Dewan Perwakilan Daerah (DPD) Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Hemas. Menurut Hemas, tidak semua desa atau kabupaten bisa menangkap sinyal dengan cukup baik saat sekolah online.

Untuk itu dirinya mendorong sekolah secepat mungkin menggelar kegiatan belajar mengajar (KBM) secara tatap muka, tentunya dengan menerapkan protokol kesehatan. Sebab ini akan memengaruhi kehidupan anak di masa mendatang.

“Saya setuju agar sekolah segera menggelar kegiatan belajar mengajar secara tatap muka, dengan menerapkan protokol kesehatan,” kata Hemas di Galagharajo, Cangkringan, Sleman, kemarin.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini