Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Multazam Jatuh di Gunung Piramid, Ini 5 Tips Mendaki Gunung untuk Pemula

Dimas Andhika Fikri, Jurnalis · Senin 10 Agustus 2020 14:17 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 10 620 2259794 multazam-jatuh-di-gunung-piramid-ini-5-tips-mendaki-gunung-untuk-pemula-8mv7PskX4y.jpg Ilustrasi. (Foto: Freepik)

GUNUNG Piramid di Bondowoso, Jawa Timur, kembali memakan korban. Seorang pendaki bernama Multazam (18), dilaporkan meninggal dunia setelah terpeleset di tebing saat mendaki gunung tersebut.

Jenazah pelajar SMA di Bondowoso itu berhasil dievakuasi pada Minggu, 9 Agustus 2020 malam, setelah ditemukan di dasar jurang oleh pendaki lain. Selain Multazam, sebelumnya masyarakat Indonesia juga sempat digegerkan oleh kabar hilangnya pendaki gunung bernama Thoriq.

Dia juga diketahui melakukan pendakian di Gunung Piramid, pada pertengahan Juli 2019. Thoriq akhirnya ditemukan dalam kondisi sudah tidak bernyawa, setelah melalui proses pencarian yang cukup panjang.

Berkaca dari kasus Multazam dan Thoriq, dapat kita ketahui bersama bahwa kegiatan mendaki gunung bukanlah perkara yang mudah. Dibutuhkan persiapan khusus dan stamina yang prima, agar proses pendakian berjalan lancar dan bisa kembali ke rumah dalam keadaan sehat.

Baca Juga: 3 Fakta Gunung Piramid Bondowoso Tempat Pendaki Arik Multazam Tewas

Nah, bagi Anda yang memang tertarik untuk mendalami dunia pendakian, berikut Okezone rangkumkan beberapa tips mendaki gunung untuk para pemula, seperti dijabarkan oleh Rahman, selaku Sekjen Asosiasi Pemandu Gunung Indonesia.

Persiapan fisik

mendaki

Poin yang satu ini tak hanya berlaku bagi para pemula saja, tetapi bagi semua orang yang hendak melakukan pendakian gunung dengan medan dan rute yang berbeda-beda.

"Persiapan fisik itu penting, apalagi kalau mendaki gunung dengan tingkat kesukitan yang tinggi. Selain itu, kita kan juga sempat libur naik gunung karena Covid-19. Jadi sebelum mendaki gunung harus benar-benar menyiapkan fisik yang prima", kata Rahman saat dihubungi Okezone via sambungan telepon, Senin (10/8/2020).

Jenis latihan fisik yang dianjurkan antara lain jogging, push-up, sit-up, dan bersepeda. Idealnya, latihan fisik dilakukan satu bulan sebelum pendakian.

"Metode latihannya bisa seminggu 2-3 kali jogging dengan durasi minimum 30 menit. Ini dilakukan untuk meningkatkan kemampuan tubuh kita menyerap oksigen. Otot kaki pun jadi lebih siap saat melakukan perjalanan jauh. Begitu pula dengan otot punggung, yang nantinya akan membawa beban cukup berat (keril). Itulah sebabnya dianjurkan untuk push-up dan sit-up," ungkap Rahman.

Persiapan teknis

Selanjutnya memastikan persiapan teknis terpenuhi dengan baik. Mulai dari manajemen perjalanan, seperti apa rencana, agenda dan jadwalnya, termasuk mempelajari medan, cuaca, dan kondisi alam.

Peralatan dan perlengkapannya pun harus sesuai dengan standar keamanan. Perlengkapan ini terbagi menjadi dua kategori, perlengkapan pribadi, dan perlengkapan kelompok.

Baca juga: 

Serunya Liburan Cita Citata, Kemah hingga Adu Nyali Main Arung Jeram!
Serunya Liburan Cita Citata, Kemah hingga Adu Nyali Main Arung Jeram!

"Perlengkapan pribadi itu seperti pakaian lapangan, pakaian hangat, membawa rain coat, dan memakai sepatu yang proper (sepatu gunung). Kalau perlengkapan kelompok seperti tenda, perlengkapan masak, dan logistik. Ingat, perbekalan harus benar-benar mencukupi karena aktivitas di gunung itu berat," tegas Rahman.

"Suhu di sana kan lebih dingin, jadi tubuh membutuhkan asupan makanan yang lebih baik, harus ada unsur 4-5 sempurna, menyiapkan makanan berkalori tinggi, dan minum yang cukup agar tubuh tetap terhidrasi dengan baik," timpalnya.

Persiapan teknis yang tidak kalah pentingnya mempelajari navigasi serta memperbanyak informasi seputar penanganan-penangan penyakit di gunung seperti Hipotermia.

"Setidaknya kita harus tahu dulu gejala-gejala awalnya, dan bagaimana memberikan pertolongan pertama," tuturnya.

Kemampuan terkait kemanusian

Kemampuan terkait kemanusiaan, kata Rahman, berkaitan dengan sikap dan mental positif sang pendaki itu sendiri. Contohnya ketika Anda menyambangi tempat baru, Anda harus menghormati kebudayaan dan kearifan lokal. Jangan lakukan perilaku tidak etis yang dapat menyinggung warga setempat.

"Ini juga menyangkut tentang semangat untuk saling menjaga satu sama lain. Sesama pendaki harus saling mengingatkan dan menyemangati. Kalau ada teman yang butuh istirahat, ya kita harus perhatikan dan menjaga mereka. Jangan egois," tegas Rahman.

Kemampuan kelingkungan hidup

Terakhir ada persiapan tentang kemampuan kelingkungan hidup. Ini berkaitan tentang etika-etika di alam terbuka, terutama menyangkut konservasi atau kelestarian alam.

"Naik gunung jangan nyampah, kita harus jaga kelestarian alam juga. Kalau itu dilakukan dengan baik, diri kita selamat, alam pun terjaga," imbuhnya.

Baca Juga: 

Potret Liburan Manja Siti Badriah di Bali
Potret Liburan Manja Siti Badriah di Bali

Gabung komunitas atau gunakan jasa pemandu

Rahman menyarankan agar para pendaki pemula bergabung dalam komunitas pencinta alam. Sehingga saat hendak melakukan pendakian gunung, mereka bisa mengajak anggota yang berpengalaman untuk memandu proses pendakian.

"Alternatif lainnya bisa menggunakan jada pemandu dan operator. Sekarang sudah banyak pemandu yang tersertifikasi," tandas Rahman.

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini