Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Peneliti Virologi: Masker Lebih Efektif Cegah Penularaan Covid-19 saat Naik Ojol

Haryudi, Jurnalis · Senin 10 Agustus 2020 19:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 10 620 2259995 peneliti-virologi-masker-lebih-efektif-cegah-penularaan-covid-19-saat-naik-ojol-D2TuvjudOZ.jpg Ilustrasi (Foto: Dokumentasi Okezone)

BOGOR - Persoalan penerapan protokol kesehatan saat beraktivitas menggunakan transportasi publik berbasis daring, baik ojek online (ojol) maupun taksi online, menuai redaksi beragam dari sejumlah kalangan. Khususnya terkait penggunaan alat pelindung diri (APD), semisal masker.

Peneliti Virologi dari Universitas Airlangga Prof. dr Chairul Anwar Nidom menyatakan, masker tetap menjadi solusi terbaik saat beraktivitas, termasuk saat menggunakan ojol maupun taksi online.

Bahkan, menurutnya karena virus penyebab Covid-19 ini dapat menular lewat udara seperti virus flu, penggunaan masker harus betul terstandar yang mampu menepis virus yang menempel di masker. Bukan masker biasa, minimal menggunakan masker bedah.

"Atau saat ini sudah ada bahan kain yang dilapisi dengan suatu bahan yang bisa menetralisir virus dan ukuran pori dari masker tidak boleh lebih dari 5 mikron," ujarnya Prof Nidom dalam keterangan pers tertulisnya, Senin (10/08/2020)

"Dengan ketaatan masyarakat menggunakan masker, insha Allah virus bisa ditepis, apakah naik ojek atau taksi atau sedang kumpul dengan orang lain," tandasnya.

Prof Nidom menambahkan, adanya transmisi virus melalui udara membuat jaga jarak jadi tidak banyak berpengaruh. Jaga jarak dengan minimal 1 meter diasumsikan penularan melalui droplet. Sebab lontaran droplet diperkirakan sejauh 1 meter. Untuk itu ia meminta masyarakat tidak meremehkan virus corona.

"Dengan diketahui penularanya bisa melalui udara, maka jarak berapapun akan bisa dijangkau oleh virus tersebut," ujarnya.

Tak hanya itu, Peneliti Mikrobiologi Institut Teknologi Sumatera (Itera) Muhammad Asril juga menegaskan virus corona tidak bertahan di udara dengan pertukaran udara yang bebas seperti saat mengendarai motor.

"Virusnya itu akan bertahan di udara yang aliran pertukarannya terbatas. Jika kondisinya di ruang terbuka resiko penularan cenderung rendah. Penularan melalui udara yang disampaikan oleh WHO adalah di dalam ruangan tertutup yang tidak memiliki sirkulasi udara yang baik," papar Asril.

Sehingga, menggunakan layanan ojek online dipastikan aman selama menggunakan masker. "Driver dan penumpangnya pakai masker pastinya sudah sangat aman untuk mengurangi penyebaran dan kontaminasi ke tubuh," ujar Asril.

Sama halnya saat menggunakan taksi online, Asril menyarankan tetap menggunakan masker. "Masker is the best solution, AC dimatikan dengan kaca dibuka, seharusnya pertukaran partikel virusnya dengan udara akan bagus, viral load-nya akan berkurang," paparnya.

Viral load sendiri, lanjut Asril, ibaratnya jumlah partikel virus yang siap untuk menginfeksi. Selama viral load-nya rendah, maka virus akan sulit menempel pada reseptornya yang ada di nasofaring (saluran pernafasan).

Selain itu, penggunaan sekat pada taksi online menurut Asril merupakan ide yang kreatif. Hal itu dapat mencegah penularan selama pertemuan langsung terjadi antara pengemudi dan penumpang. Namun agar lebih aman, ia menyarankan kendaraan didisinfeksi secara rutin.

Lebih lanjut, Asril menjelaskan airborne disease oleh WHO adalah bagian aerosol yang ukurannya sangat kecil yang memuat virus dan masih melayang di udara.

"Kalau droplet yang ukuran besar, karena ada gravitasi maka akan jatuh ke lantai, tanah atau lainnya. Nah aerosol ini ukurannya sangat kecil sehingga masih bisa melayang-layang di udara, akibat adanya sirkulasi udara yang sedikit maka ini bisa menyebar kemana-mana," tandas Asril.

Sekadar diketahui, Grab dan Ojek membagikan sekat pelindung secara gratis kepada mitranya untuk mencegah penyebaran virus corona.

Namun, sekat pelindung pada ojek online (ojol) disarankan untuk dihindari. Menggunakan face shield lebih direkomendasikan karena selain memenuhi aspek keamanan, juga tetap menjaga protokol kesehatan pada masa pandemi Covid-19.

Senior Instructor Safety Defensive Consultant Indonesia (SDCI) Sony Susmana mengatakan penggunaan sekat pelindung berupa material sebentuk mika tidak efektif. Terlebih sekat yang membatasi antara pengemudi dengan penumpang itu berukuran cukup lebar.

"Selain karena kendaraan bergerak, tentu jadi mengganggu kerja pengemudinya. Memang untuk udara statis, sekat jadi efektif. Tapi kendaraan ini bergerak. Jadi tidak efektif,” ujar Sony melalui keterangannya.

Ia menilai, sapuan angin ketika sepeda motor berjalan, terlebih dalam kecepatan cukup tinggi, bisa membahayakan. Dengan demikian, aspek keamanan tidak terpenuhi dalam hal penggunaan sekat pelindung itu.

"Toh, droplet (cairan yang bisa menularkan virus) itu keluar dari depan dan bukan dari belakang. Sekat pelindung tidak efektif dan berbahaya untuk keseimbangan motor,” tegasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini