Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Madrasah dan Pesantren Diminta Beradaptasi dengan Covid-19

Novie Fauziah, Jurnalis · Rabu 12 Agustus 2020 17:00 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 12 620 2261138 madrasah-dan-pesantren-diminta-beradaptasi-dengan-covid-19-S3aHJwcOPU.jpeg Wamenag Zainut Tauhid saat meninjau MtsN 1 Semarang (Kemenag)

WAKIL Menteri Agama RI (Wamenag) KH. Zainut Tauhid Sa’adi menyatakan, bahwa semua lembaga pendidikan harus beradaptasi serta berdamai dengan Covid-19 yang saat ini masih mewabah. Langkah tersebut dirasa menjadi jalan terbaik, sebab virus tersebut hingga sekarang belum diketahui kapan akan berakhir.

“Di tengah adaptasi kebiasaan baru ini, pendidikan madrasah dan pesantren pun dituntut untuk mampu berkreasi dan produktif agar tidak tertinggal oleh dinamika keadaan yang berjalan serba cepat,” ujarnya saat berkunjung ke Madrasah Tsnawiyah (MTs) Negeri 1 Semarang, Rabu (12/8/2020).

Baca juga: 7 Fakta Istimewa Khadijah, Istri Rasulullah SAW yang Dikenang Sepanjang Masa

Zainut memotivasi agar madrasah dan pesantren memiliki optimisme tinggi dan produktif dalam menjalani proses pengajaran. Optimisme dan semangat berproduktif agar dijadikan kiat untuk mencari keberkahan dari musibah Covid-19.

“Kita harus mampu mengambil manfaat dari musibah Covid-19 dengan menciptakan inovasi dan kreativitas baru. Salah satu bentuk manfaat yang dapat kita petik dari Covid-19 adalah percepatan migrasi pembelajaran dari sistem konvensional ke digital sebagai jawaban yang tepat,” katanya seperti dalam keterangan tertulis diterima Okezone.

Lebih lanjut, pembelajaran secara virtual dan alternatif tatap muka yang selama ini dilakukan, dinilai sebagai proses inovasi, agar pembelajaran tidak berhenti. Zainut menambahkan, tatap muka melalui daring (virtual) juga menular ke kegiatan lain, salah satu di antaranya adalah pengajian atau kajian ibu-ibu.

Selain itu, kata Zainut, pesantren pun kini mulai membuka kembali proses pembelajarannya, sehingga para santri kembali lagi ke pondoknya masing-masing. Kemudian ada sebagian pesantren yang memberlakukan peraturan ketat, yakni menerapkan protokoler kesehatan. Misalnya satu kamar diisi dua sampai empat santri. Namun banyak pula satu kamar diisi hingga dua puluh santri, karena keterbatasan fasilitas kamar.

“Namun secara umum santri kembali menyantri dinilai lebih aman dari serangan Covid-19 daripada mereka di luar pesantren. Maka banyak orangtua yang gembira ketika pesantren kembali dibuka untuk belajar para santri,” pungkasnya.

(sal)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini