Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Impor Tekstil Ilegal Bisa Buat Negara Rugi Rp7 Triliun

Aditya Putra, Jurnalis · Rabu 19 Agustus 2020 12:02 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 19 620 2264341 impor-tekstil-ilegal-bisa-buat-negara-rugi-rp7-triliun-YcZsOKC2zI.jpg Tekstil (Okezone)

JAKARTA - Asosiasi Pertekstilan Indonesia menyebut jumlah kerugian negara yang diakibatkan dari impor tekstil ilegal mencapai Rp7 triliun. Nominal tersebut berdasarkan dari selisih jumlah data impor Indonesia terhadap produk China dan ekspor dari China ke Indonesia.

"Kalau hitungan kasar kita, itu misal tadi sekitar 331.000 ton hasil selisih perbedaan impor dan ekspor kemudian kita konversikan kemudian ditambah PPn dan PPh yang harusnya pemerintah dapat mungkin di atas Rp7 triliun potensi yang hilang," ujar Sekretaris Eksekutif Asosiasi Pertekstilan Indonesia, Rizal T Rakhman dalam acara Market Review IDX Channel, Rabu (19/8/2020).

 Baca juga: Virus Corona Intai Industri Tekstil, Penjualan Anjlok hingga Dihantui PHK

Rizal menambahkan, rata-rata produk impor merupakan pakaian jadi, yang mana telah merusak produk di dalam negeri. Jika produk itu diproduksi di dalam negeri akan mampu menggerakkan ekonomi nasional, memperkerjakan sekian banyak karyawan, dan UMKM atau IKM juga akan bergerak.

"Tapi kalau tiba-tuba barang itu sudah masuk ke Indonesia sudah jadi barang jadi artinya ada banyak proses yang bisa menghasilkan nilai tambah bagi ekonomi nasional. ini kan merugikan banyak pihak, belum lagi soal pendapatan negara," kata dia.

 Baca juga: Industri Tekstil Tergerus Virus Corona, Pengusaha Minta Ini ke Pemerintah

"Ini bukan angka yang kecil karena produk yang manufaktur mempunyai nilai tambah yg sangat besar kalau itu dilakukan di dalam negeri," sambungnya.

Tak ingin hal tersebut berulang, Rizal menyampaikan bahwa pihaknya telah mengajukan sertifikat untuk benang serta kain dan sudah keluar bea masuk tambahan untuk kain dan benang. Ini diperlukan agar barang impor masuk Indonesia harganya lebih mahal daripada yang diproduksi dalam negeri.

"Artinya kalau barang impor lebih murah merusak pasar dalam negeri," ucapnya.

(rzy)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini