Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Mengenal Subtipe Kanker Payudara Metastatis Tertinggi di Dunia

Wilda Fajriah, Jurnalis · Senin 31 Agustus 2020 17:09 WIB
https: img.okezone.com content 2020 08 31 620 2270332 mengenal-subtipe-kanker-payudara-metastatis-tertinggi-di-dunia-ziZY6rmVXK.jpg Deteksi dini kunci cegah kanker payudara (Foto : Medicalnewstoday)

Hormone Receptor-positive (HR+) dan Human Epidermal growth factor Receptor 2-negative (HER2-), merupakan 73% dari semua kasus kanker payudara metastatis di seluruh dunia.

Menurut studi Globocan 2018, kanker payudara menempati peringkat kanker tertinggi di Indonesia dengan 58,256 kasus baru pada tahun 2018 dan menempati posisi kedua penyebab kematian karena kanker, setelah kanker paru-paru.

Kanker payudara adalah kanker invasif yang paling umum terjadi pada wanita secara global dengan lebih dari 2 juta wanita terkena setiap tahunnya.

Menurut para ahli kesehatan, diperkirakan terjadi peningkatan sekitar 43% dalam kematian terkait kanker payudara secara global dari 2015 hingga 20307, yang sebagian besar merupakan akibat dari penyakit metastasis8 atau sel kanker yang menyebar ke organ lain di dalam tubuh.

Kanker Payudara

Sekira 70% dari waktu penyebarannya, subtipe kanker payudara HR+/HER2- menyebar ke tulang, jaringan lunak seperti kelenjar getah bening, dan kadang-kadang terlihat di organ-organ seperti paru-paru atau hati, maupun di kulit.

Medical Director Pfizer Indonesia dr. Handoko Santoso mengatakan, dengan jumlah penderita kanker payudara yang terus meningkat secara global, Pfizer berfokus pada ilmu pengetahuan tentang kanker payudara selama lebih dari dua dekade terakhir.

Baca Juga : Ariana Grande Curi Perhatian di MTV VMA 2020, Eh Ada yang Melorot!

Pfizer diketahui melakukan aktivitas riset dan pengembangan yang inovatif berbasis uji klinis terhadap lebih dari 25.000 pasien kanker sejak 1995, untuk mencapai kemajuan dalam pengobatan kanker payudara secara signifikan pada setiap tahapan stadium maupun subtipe, serta memberikan informasi yang komprehensif dan kredibel, khususnya bagi pasien kanker payudara metastatis subtipe HR+ / HER 2-.

"Terdapat lebih dari 20 subtipe kanker payudara yang berbeda dalam presentasi, respon terhadap pengobatan, termasuk hasilnya. Perlu bagi pasien untuk mencari dan mendapatkan pengobatan inovatif yang tepat sesuai dengan subtipe-nya,” tutur dokter Handoko dalam webinar pada Senin (31/8/2020).

Sementara itu, Hematologi Onkologi Medik RS Kanker Dharmais mengatakan, untuk mengetahui subtipe kanker payudara metastatis, semua hasil biopsi, misalnya core-biopsy, atau hasil operasi pengangkatan tumor dengan laporan patologi kanker payudara, perlu diperiksa dengan beberapa tes tambahan untuk mengetahui sub tipenya, termasuk dengan tes HR (ER/PR) dan HER2.

Subtipe kanker sesuai laporan patologi sangat menentukan pilihan obat yang disarankan dokter, sehingga laboratorium patologi dengan kemampuan lengkap harus tersedia pada semua provinsi dan rumah sakit yang menangani kanker.

“Dengan memahami subtipe kanker payudara, diharapkan dapat meningkatkan tingkat kesembuhan dan kualitas hidup penderita kanker payudara metastatis,” lanjut Dr. Ronald Hukom.

Kanker Payudara

Terapi yang tersedia untuk kanker payudara metastatik di Indonesia sudah cukup lengkap. Tergantung hasil patologi, perawatan bisa dilakukan dengan kemoterapi, terapi hormon, terapi target, imunoterapi, termasuk sekarang juga sudah tersedia CDK 4/6 inhibitor untuk menghambat pertumbuhan sel-sel kanker.

“Sebelum memulai pengobatan pada kanker payudara metastatik, pasien harus yakin sudah mendapat informasi yang cukup, bila perlu dengan minta opini kedua pada dokter ahli lainnya, dan terapi harus dilakukan oleh dokter yang tepat, khususnya Onkologi Medik yang berpengalaman,” ujar Dr. Ronald Hukom.

Dengan kemajuan teknologi, perkembangan terapi kanker payudara metastatik tumbuh sangat pesat. Semua terapi yang baru memungkinkan hasil yang lebih baik, khususnya yang sudah memiliki bukti yang kuat.

Guna menghindari informasi yang menyesatkan, Dr. Ronald Hukom mengingatkan pasien untuk waspada terhadap hoax pada terapi kanker, karena hal tersebut sangat berbahaya.

“Pasien kanker payudara stadium 2 yang harapan sembuhnya tinggi, karena mengikuti himbauan hoax menjadi tidak dapat disembuhkan. Atau pasien stadium 4 metastatik yang masih bisa memiliki harapan median survival lebih dari 5 tahun, namun menggunakan obat yang tidak tepat, dapat mengurangi periode survival," pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini