Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Target Jokowi Lakukan 30 Ribu PCR Swab Test Per Hari Tercapai

Kiswondari, Jurnalis · Selasa 22 September 2020 16:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 22 620 2281932 target-jokowi-lakukan-30-ribu-pcr-swab-test-per-hari-tercapai-RnZzZCBZ8D.jpg ilustrasi: Okezone

JAKARTA - Target Presiden Joko Widodo (Jokowi) untuk melakukan 30.000 tes usap (swab test) PCR per hari secara nasional sudah tercapai. Namun, jumlah itu masih jauh dari standar WHO dan belum merata di seluruh daerah, karena daerah memiliki keterbatasan SDM.

Demikian diutarakan Ketua Satuan Tugas (Satgas) Penanganan Covid-19 Doni Monardo dalam Raker Komisi VIII DPR di Kompleks Parlemen Senayan, Jakarta, Selasa (22/9/2020).

(Baca juga: Viral! Wanita Ini Terpapar Covid-19 Setelah Bersepeda dan Renang)

“Target bapak Presiden untuk 30 ribu spesimen alhamdulillah sudah terpenuhi meskipun belum merata, target WHO belum kita capai, tapi kita menuju angka yang lebih baik untuk bisa mendapatkan angka pemeriksaan per orang per hari sekitar 38 ribu orang per hari, itu idealnya sesuai ketentuan WHO, 1 orang per 1000 penduduk untuk pemeriksaan spesimen,” ujar Doni.

Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) ini melanjutkan, secara rata-rata, total angka tes usap harian sudah atas 30.000, padahal awalnya untuk naik ke 30.000 itu cukup berat dan sangat lama prosesnya.

Karena kini laboratorium untuk swab test PCR sudah banyak di setiap provinsi. “Gelar PCR sudah semakin banyak di tiap-tiap provinsi, hanya memang kendalanya keterbatasan SDM,” terangnya.

(Baca juga: Berita Baik! Mulai Senin Tenaga Kesehatan Gratis Swab Test)

Dijelaskan Doni, masalah SDM ini tidak bisa dipaksakan secara maksimal karena, petugas laboratotium itu memiliki risiko terpapar yang sangat tinggi. Bahkan, ia mendapatkan laporan bahwa banyak laboratorium yang ditutup karena petugasnya terpapar.

“Ini juga menjadi atensi kami untuk melatih lagi sehingga kapasitas SDM di setiap lab (laboratorium) itu lebih optimal,” ujar Doni.

Dia mengakui bahwa ada begitu banyak permintaan alat PCR di daerah, tetapi ada beberapa syarat yang harus dipenuhi, baik itu laboratorum BSL 2, petuags laboratoriumnya dan juga manajemen. Karena, ada beberapa daerah yang sudah dikirimkan alat PCR dan akhirnya tidak bisa beroperasi.

“Karena ada mereka sudah dilatih ternyata tidak bisa terlibat langsung. Jadi aspek psikologis petugas harus kita perhitungkan,”tandasnya.

(fmi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini