Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Masyarakat Diminta Waspada soal Gempa Besar dan Tsunami 20 Meter

Harits Tryan Akhmad, Jurnalis · Jum'at 25 September 2020 15:53 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 25 620 2283722 masyarakat-diminta-waspada-soal-gempa-besar-dan-tsunami-20-meter-zaOnbuEza8.jpg ilustrasi: shutterstock

JAKARTA - Kepala Pusat Pusat Gempa Bumi dan Tsunami, Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Rahmat Triyono mengatakan, gempa yang berpotensi gelombang tsunami di Selatan Pulau Jawa kemungkinan akan terjadi.

Namun, lanjut Rahmat, hingga saat ini belum ada yang bisa memprediksi terkait berapa magnitudo ataupun kapan waktu kejadiannya. Ia hanya meminta masyarakat untuk selalu waspada bahwa ancaman itu ada.

(Baca juga: Gempa dan Tsunami 20 Meter di Selatan Jawa, BMKG: 20 Menit Sampai Daratan!)

“Itu sudah bisa diprediksi sangat jelas siapa pun tidak memungkiri bahwa disitu akan terjadi gempa dan karena sumber gempa disana. Namun dengan magnitudo kekuatan berapa atau menyebutkan waktunya tidak mungkin secara akurat terjadi,” jelas Rahmat kepada Okezone di Jakarta, Jumat (25/9/2020).

Dengan adanya ancaman potensi gempa dan diserta gelombang tsunami di Selatan Pulau Jawa, Rahmat meminta masyarakat untuk bijaksana menghadapinya dengan menyiapkan segala sesuatunya.

(Baca juga: Gempa Besar dan Tsunami 20 Meter, BMKG: Berpotensi Hampir di Seluruh Indonesia)

“Bahwa bencana gempa bumi belum bisa diprediksi. Namun kita siap lebih baik daripada tidak sama sekali,”ujarnya.

Terkait infrastruktur, Rahmat mengakui beberapa wilayah kabupaten/kota sudah terpasang sistem peringatan dini. Namun ada masih terdapat infrastruktur bencana yang masih kurang ideal.

Seperti halnya shelter atau bangunan untuk evakuasi yang masih belum merata di kabupaten/kota Indonesia. Termasuk juga di wilayah Selatan Pulau Jawa.

“Dari sistem peringatan dininya kita yakini sudah banyak terpasang, namun ifrastruktur lain ada shelter evakuasi tsunami memang sangat kurang apalagi di selatan jawa sangat kurang,” bebernya.

“Dulu yang disiapkan hanya di Sumatera Barat karena memang dulu setelah Aceh (tsunami) isunya Sumatera Barat yang akan giliran dan dibangun semua masyarakat disiapkan infrastruktur, jalur evakuasi dibuat dan shelter dibangun ya,” tutupnya.

Sebelumnya peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengelola data berdasarkan hasil pengolahan data gempa yang tercatat oleh stasiun pengamat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan data Global Positioning System (GPS) diperoleh indikasi adanya zona dengan aktivitas kegempaan yang relatif rendah terhadap sekitarnya, yang disebut sebagai seismic gap, di selatan Pulau Jawa.

''Seismic gap ini berpotensi sebagai sumber gempa besar (megathrust) pada masa mendatang. Untuk menilai bahaya inundasi, pemodelan tsunami dilakukan berdasarkan beberapa skenario gempa besar di sepanjang segmen megathrust di selatan Pulau Jawa,'' tutur Profesor Sri Widiyantoro.

Sri Widiyantoro memaparkan Skenario terburuk, yaitu jika segmen-segmen megathrust di sepanjang Jawa pecah secara bersamaan, menunjukkan bahwa tinggi tsunami dapat mencapai ~20 meter di pantai selatan Jawa Barat dan ~12 meter di selatan Jawa Timur, dengan tinggi maksimum rata-rata 4,5 meter di sepanjang pantai selatan Jawa.

''Skenario terburuk, yaitu jika segmen-segmen megathrust di sepanjang Jawa pecah secara bersamaan, menunjukkan bahwa tinggi tsunami dapat mencapai 20 meter di pantai selatan Jawa Barat dan 12 m di selatan Jawa Timur,'' tegas Sri Widiyantoro.

(fmi)

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini