Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ada Corona, Tantangan Industri Migas Kian Berat

Taufik Fajar, Jurnalis · Selasa 06 Oktober 2020 12:41 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 06 620 2289147 ada-corona-tantangan-industri-migas-kian-berat-IFh27ecuvC.jpg Dampak Pandemi Virus Corona terhadap Industri Migas. (Foto: Okezone.com/Shutterstock)

JAKARTA - Industri minyak dan gas bumi (Migas) menghadapi tantangan berat akibat penyebaran wabah Covid-19, penurunan harga minyak sejak awal 2020 dan penurunan konsumsi Bahan Bakar Minyak (BBM) secara global. Hal ini mempengaruhi aktivitas produksi, baik penundaan atau pembatalan proyek-proyek (belanja modal/capex), dan eksplorasi.

General Manager PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) Agus Amperianto mengaku tantangan industri migas saat ini sangat berat. Manajemen dan pekerja PHM harus optimistis bahwa dengan kerja keras, cost effective, serta team work yang mengedepankan aspek HSSE, masih ada harapan meningkatkan produksi dan cadangan.

Baca Juga: Lifting Migas Capai Target, Negara Bisa Raup USD6,74 Miliar

“Kami akan fokus pada target perusahaan dengan zero LTI (loss time incident ) dan memitigasi semua potensi hazard di area operasi sesuai,” ujar Agus, dalam keterangannya, di Jakarta, Selasa (6/10/2020).

Menghadapi tantangan yang tak mudah saat ini, unit bisnis PT Pertamina Hulu Indonesia ini menyiapkan strategi jangka pendek hingga akhir 2020 dan jangka menengah (2021-2024). Strategi tersebut adalah financial commercial dan portfolio dengan dengan cara cost efficiency peningkatan ekspor LNG dan sinergi dengan kilang pengolahan (refinery unit) untuk mengurangi impor LPG. Di luar itu, Agus juga menyiapkan skenario peningkatan keekonomian blok.

Baca Juga: 2.030 Pekerja Migas Positif Covid-19, 9 Meninggal Dunia

Strategi berikutnya adalah resources dan reserve management. Strategi peningkatan cadangan dan sumber daya dilakukan dengan cara meningkatkan Reserve Replacement Ratio (RRR) dan memperpanjang Reserve to Production (R to P). Dalam jangka panjang PHM juga menyiapkan pembentukan subsurface portfolio.

“Skenario itu dilakukan melalui Operation Excellence dengan prinsip On Target on Budget On Schedule On Return (OTOBOSOR),” ujarnya.

Agus berharap, dengan skenario jangka pendek kinerja PHM bisa mencapai target dalam RKAP. “Alhamdulillah, sepanjang Januari- September 2020, secara umum PHM dapat menjaga level produksi sesuai proyeksi,” ujarnya.

Hingga kuartal III 2020, PHM membukukan produksi gas 606 juta standar kaki kubik per hari (MMSCFD) atau 101% terhadap RKAP 2020 maupun RKAP Revisi 2020. Sedangkan produksi minyak tercatat 29.600 barel per hari (BOPD) atau 104% dari target dalam RKAP 2020 dan 102% terhadap RKAP Revisi 2020. “Kami berharap pada kuartal IV produksi akan bertambah sehingga secara keseluruhan diharapkan menjadi lebih baik,” ujar Agus.

Sedangkan lifting gas hingga akhir September 2020 tercatat 585 MMSCFD atau 119% dari RKAP 2020 atau 103% dari RKAP revisi 2020. Sedangkan lifting minyak 28.300 BOPD atau 98% dari target dalam RKAP 2020 dan 97% RKAP Revisi 2020.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini