Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Waspadai Ancaman DDB di Tengah Pandemi Covid-19

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Jum'at 09 Oktober 2020 13:50 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 09 620 2290995 waspadai-ancaman-ddb-di-tengah-pandemi-covid-19-Teb0H84fB0.jpg Ilustrasi (Foto : Medicalnewstoday)

Angka kasus Covid-19 di Indonesia masih terus meningkat. Data terakhir hingga berita ini ditayangkan, tercatat sebanyak 321 ribu kasus positif, atau naik 4.850 dari hari sebelumnya.

Meski angka kasus Covid-19 terus meningkat, bukan berarti lengah terhadap ancaman penyakit lain. Salah satu penyakit yang tanpa disadari juga menjadi ancaman saat ini adalah demam berdarah dengue (DBD).

Menurut data Kementerian Kesehatan (Kemenkes), hingga minggu ke-37 tahun 2020, kasus DBD mencapai 84.734. Kasus tertinggi ditemukan di Pulau Jawa.

Diterangkan Direktur Pencegahan dan Pengendalian Penyakit Tular Vektor dan Zoonotik Kemenkes Didik Budijanto, sebaran kasusnya di Pulau Jawa sangat tinggi. "Pulau Jawa semua wilayahnya warna merah, tandanya ada kasus di semua wilayah. Beda dengan Papua, di sana hijau untuk DBD, tapi ada kasus malaria," paparnya, belum bulan lalu.

Meski terhitung cukup tinggi angka kasusnya, kasus DBD hingga minggu ke-37 itu masih dalam batas aman dilihat dari batas incident rate DBD-nya yaitu 49 per 100.000 penduduk. "Angka kasus di minggu ke-37 itu incident rate-nya 31,23 per 100.000 penduduk," terang Didik.

Untuk kasus meninggal akibat DBD, dari data yang sama, menunjukkan angka 581 orang. Angka tersebut terhitung tinggi, karena hampir mendekati angka total kematian DBD pada 2019.

Nyamuk

Sementara itu, beberapa upaya pencegahan bisa dilakukan masyarakat. Mulai dengan memastikan tidak ada ruang untuk jentik nyamuk hidup, menerapkan pola hidup yang bersih dan sehat, dan upaya lain seperti fogging.

Ya, tindakan penyemprotan nyamuk itu dinilai cukup efektif membunuh nyamuk dan berdampak pada penurunan angka kasus DBD di masyarakat. Seperti dijelaskan Azis Chandra, Senior Brand Manager Cap Lang Kayu Putih Plus, kegiatan fogging ampuh dalam membasmi sarang-sarang nyamuk yang semakin banyak di masa pancaroba.

"Dengan berkurangnya sarang-sarang nyamuk yang ada, maka risiko penyebaran penyakit DBD juga semakin berkurang," ujarnya, melalui pesan tertulis yang diterima Okezone, Jumat (9/10/2020).

Baca Juga : IDI: Klaster Demo Akan Picu Lonjakan Kasus Covid-19

Melakukan fogging diterangkan Azis tidak bisa sembarangan. Ya, perlu didasari riset yang benar, misalnya apakah area tersebut tinggi kasus DBD-nya atau tidak. "Pemilihan titik-titik fogging didasari riset yang menunjukkan bahwa daerah itu masuk ke dalam wilayah dengan tingkat penderita DBD tertinggi atau tidak," jelas Azis.

Ia menambahkan, upaya fogging diharapkan bisa menekan angka kasus DBD di tengah pandemi. Sebab, kesehatan masyarakat perlu menjadi sorotan utama di situasi seperti sekarang. "Kami pun berharap supaya masyarakat bisa menjaga diri melawan DBD dengan menjalankan pola hidup bersih dan sehat di tengah pandemi ini," tambahnya.

Perbandingan dari tahun 2015

Sebelumnya, pada pertengahan September lalu, Didik menyampaikan bahwa kasus DBD sejak tahun 2015 hingga 2020 mengalami naik turun. “Bahwa kalau kita lihat dari data pokok kasus demam berdarah ini sejak tahun 2015 sampai dengan pertengahan minggu ke-37 tahun 2020 ini, memang jumlah penderita ada naik turunnya,” katanya.

Pada 2015 kasus DBD tercatat sebanyak 129.650 kasus, di tahun 2016 sebanyak 204.171 kasus, di tahun 2017 sebanyak 68.407 kasus, di tahun 2018 sebanyak 65.602 kasus, di tahun 2019 sebanyak 138.127 kasus, dan di minggu ke-37 tahun 2020 sebanyak 84.734 kasus.

“Kalau di awal 2015 sekitar 129 ribu sekian, pada tahun 2019 yang kemarin 138 ribu sekian dan sekarang ini ada minggu ke-37 itu sudah mencapai 84.700 sekian pada bulan ke-9 ya. Ini memang harus kita antisipasi, kita sikapi dengan perubahan iklim,” jelas Didik.

Nyamuk

Didik mengungkapkan, batas incident rate DBD yakni 49 per 100.000 penduduk. Di mana, saat ini di minggu ke-37 tahun 2020 incident rate DBD yakni 31,23. “Kalau dari incident ratenya 49 per 100.000 penduduk, maka mungkin tahun 2015 sudah mendekati,” tuturnya.

“Tapi kalau kita lihat di tahun 2019 ini masih di atas ya 51,48 per 100.000 penduduk. Tapi kalau dilihat dari minggu ke-37 tahun 2020, mudah-mudahan enggak nambah lagi berarti kita bisa mencapai 31,23 per 100.000, oleh karena itu perlu kita antisipasi,” pungkasnya.



1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini