Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

5 Fakta Boikot Produk Prancis, 4,5 Juta Pekerja Terancam Dirumahkan

Dani Jumadil Akhir, Jurnalis · Sabtu 07 November 2020 08:12 WIB
https: img.okezone.com content 2020 11 07 620 2305676 5-fakta-boikot-produk-prancis-4-5-juta-pekerja-terancam-dirumahkan-BYFk8DM0vP.jpg Produk Prancis (Foto: Okezone/Giri)

 

JAKARTA - Asosiasi Peritel Indonesia (Aprindo) angkat bicara soal seruan boikot  produk Prancis. Menurutnya, seruan boikot produk Prancis akan mengancam 4,5 juta pekerja di sektor ritel.

Seruan boikot produk Prancis menggema hal tersebut menyusul pernyataan Presiden Prancis Emmanuel Macron yang dianggap telah menghina umat Islam.

Berikut fakta-faktanya seperti dirangkum Okezone, Jakarta, Sabtu (7/11/2020)


1. 4,5 Juta Pekerja Sektor Ritel Terancam

Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel seluruh Indonesia (Aprindo) Roy N Mandey mengatakan, dengan adanya seruan tersebut, maka akan mengancam usaha ritel di Tanah Air. Bahkan, bisa berdampak terhadap merumahkan atau terparah melakukan Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) pegawai.

Tercatat, sektor usaha ritel di Indonesia itu cukup banyak menyerap tenaga kerja. Tak tanggung-tanggung jumlahnya mencapai 4,5 juta pekerja.

"Kita menyerap itu hampir 4,5 juta jumlahnya. Jadi bisa dibayangkan, akhirnya tenaga kerja harus dirumahkan. Rata tenaga kerja itu berasal dari putra-putra daerah. Akhirnya memberikan dampak terhadap daya beli dan ekonomi itu sendiri," ujarnya kepada Okezone.


2. Hubungan Dagang RI-Prancis

Terkait hubungan perdagangan antara Indonesia - Prancis yang telah berjalan selama ini dengan kontribusi baik dan tentunya berhubungan dengan penyediaan produk yang ada pada gerai ritel modern di Indonesia. Dia berharap mekanisme perdagangan tetap dapat berjalan wajar dan normal.

"Menyoal produk asal Prancis yang ada, kami menghormati keputusan Konsumen, apakah akan membeli atau tidak atas produk dari Prancis yang dijual di gerai ritel modern. Karena merupakan hak pilihan dan keputusan konsumen atau individu yang menentukan dalam berbelanja. Jadi biarlah perdagangan berjalan seperti biasanya dan normal,” kata dia.


3. Jangan Ada Anarkis

Aprindo juga meminta ketegasan dari pihak berwenang agar tidak terjadi aksi yang merugikan masyarakat dan pelaku usaha atas hal yang dilakukan oleh pihak-pihak tertentu yang memprovokasi dan cenderung anarkis.

"Aksi ini tidak memberikan suatu manfaat apapun, justru makin membebani perekenomian khususnya sektor perdagangan, yang saat ini sedang diupayakan Pemerintah agar dapat terjadi peningkatan dan kestabilan Konsumsi Rumah Tangga sebagai point kontributor sebesar 57,6% dari Produk Domestik Bruto (PDB), di tengah lesunya demand dan market akibat pelemahan daya beli atau menahan konsumsi, di masa pandemi ini,” jelas Roy.


4. Daftar Produk Prancis

Adapun produk Prancis di Indonesia antara lain:

Produk fashion dengan berbagai brand asal Prancis yang pasti dikenal wanita dan pria seperti; Channel, Hermès, Louis Vuitton, Yves Saint Laurent, Lacoste, dan Pierre Cardin. Sementara brand kosmetiknya sudah pasti juga banyak dikenal seperti; L'Oreal, dan Garnier.

Berikutnya adalah brand produk makanan dan minuman yang sangat akrab di tengah keluarga Indonesia seperti; Danone, dan Kraft.

Tidak ketinggalan brand otomotif dan energi yaitu; Renault, Peugeot, Michelin, Total, dan Elf.

Bagi WNI yang suka pelesir pasti akrab dengan brand penginapan seperti jaringan hotel Accor yang memiliki brand Ibis, Fairmont, Pullman, Novotel, Raffles, hingga Mercure.

 

5. Minimarket Masih Jual Produk Prancis

Okezone mencoba menelusuri tiga lokasi minimarket, beberapa produk seperti Susu SGM, Aqua dan Danone ukuran 600 ml hingga 1,5 liter masih terpajang di rak.

Bahkan, berdasarkan pengakuan dari pegawai Alfamart di dua lokasi berbeda yang enggan menyebutkan namanya bahwa hingga saat ini untuk penjualan produk tersebut tak terjadi penurunan. Masyarakat masih banyak yang mencarinya.

"Penjualan masih terhitung normal, mungkin karena itu termasuk kebutuhan pokok ya," kata salah satu pegawai minimarket, di lokasi, Rabu (4/11/2020).

Dia menjelaskan, produk yang mengalami penurunan penjualan terjadi kepada Aqua galonan. Tapi dia tak mengetahui penyebabnya.

"Kalau untuk Aqua galon, penjualannya menurun," ujarnya.

Dia mengaku, hingga kini dari pihak manajemen tak ada larangan untuk menjual barang yang berasal dari Prancis tersebut.

"Belum ada larangan. Kalau saya mah di sini cuma kerja aja selama belum dilarang ya tetap dijual ke konsumen," katanya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini