Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Lebih Aman Mana, Sunat Klem atau Electrical Cauter?

Helmi Ade Saputra, Jurnalis · Rabu 09 Desember 2020 00:06 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 08 620 2323925 lebih-aman-mana-sunat-klem-atau-electrical-cauter-PXWsgya6yb.jpg Ilustrasi. (Foto: Askmen)

TEKNOLOGI medis semakin canggih, termasuk untuk sunat. Namun tahukah Moms, kalau sunat dengan teknik electrical cauter memiliki risiko tinggi penyakit.

Sunat adalah operasi pengangkatan atau pelepasan kulup atau kulit yang menutupi ujung penis. Sunat diyakini dapat menurunkan risiko infeksi saluran kemih dan kanker penis, serta membersihkan alat kelamin.

Namun sebelum sunat dilakukan, ada baiknya orangtua mencari tahu lebih dalam mengenai teknik sunat dan tenaga medis yang tepat.

Saking banyaknya metode sunat yang ditawarkan, orangtua jangan sampai keliru memilih teknik sunat.

Ingat tidak dengan kisah bocah Pekalongan yang kepala kelaminnya ikut terpotong setelah disunat dengan menggunakan teknik itu? Peristiwa yang terjadi pada September 2018 itu sungguh memilukan.

Bukan bahagia, yang ada malah derita. Nah, inilah salah satu risiko yang tentu saja akan memengaruhi kondisi psikologis dan fisik korban kelak ketika dia dewasa.

Ada juga laporan kasus yang dipublikasikan dalam British Medical Journal pada Januari 2013. Kasus ini jauh lebih mengerikan. Karena menggunakan teknik electric cauter, seorang bocah 7 tahun penisnya akhirnya harus diamputasi karena efek menggunakan teknik tersebut.

Anak itu dilarikan ke pusat oksigen hiperbarik karena sianosis pada kelenjar penisnya. Ia menjalani pengobatan yang dilakukan dengan cara memberikan oksigen murni di dalam ruangan khusus bertekanan udara tinggi.

Dia dilaporkan telah disunat pada hari yang sama dengan menggunakan perangkat elektrokauter monopolar. Sayangnya, elektrokauter menyebabkan luka bakar yang parah pada kelenjar penis si anak.

Pada pemeriksaan, ia mengalami nekrosis atau kondisi cedera pada sel yang mengakibatkan kematian dini sel-sel dan jaringan hidup pada kelenjar dan batang penis.

Meski terlihat aman, namun penggunaan elektro kauter monopolar, mengakibatkan kecelakaan yang dramatis pada pasien tersebut. Memang, ketika elektroda monopolar digunakan, arus listrik yang dibawa hanya menyebabkan sedikit luka bakar pada penis.

 sunat

Namun, ternyata luka yang diakibatkan teknik itu memburuk dan mengakibatkan hilangnya jaringan yang signifikan yang melibatkan seluruh kelenjar dan bagian distal batang penis. Alat kelamin anak tersebut akhirnya harus diamputasi.

Baca Juga: 6 Tips Menjaga Kesehatan Selama Musim Hujan

Diungkapkan dr Mahdian Nur Nasution, SpBS dari Rumah Sunat dr Mahdian, banyak orang mengira sunat laser berarti menggunakan sinar laser, tapi faktanya tidak. Istilah sunat laser ini sebenarnya keliru, tidak menggunakan sinar laser melainkan alat yang dinamakan electric cauter.

"Teknik electrical cauter ini adalah metode yang paling berbahaya. Jadi teknik yang digunakan electrical cauter itu memang alat yang digunakan untuk sunat yang paling berisiko terjadinya amputasi," ujar dr Mahdian lewat keterangan resminya yang diterima Okezone, Selasa (8/12/2020).

Electric cauter, sambung dr Mahdian, umumnya menggunakan lempengan logam yang dipanaskan. Jika dialiri dengan listrik, ujung logam akan menjadi panas dan berwarna merah, sehingga dapat digunakan untuk memotong kulup.

Namun, berhubung metode sunat laser ini lempengan logam yang dipanaskan, jika salah penggunaannya, maka dapat berisiko menimbulkan luka bakar. "Teknik ini sangat berbahaya bagi yang disunat. Fatal bisa saja penis terpotong atau amputasi seperti kasus di atas," paparnya.

Baca Juga: 7 Manfaat Daun Pepaya, Tumbuhkan Rambut hingga Cegah Kanker

Teknik sunat ini juga menggunakan logam panas, sehingga bisa menyebabkan luka bakar pada bagian kelamin. Meski teknik ini lebih cepat, namun tetap disarankan untuk tidak memilih teknik ini.

Kalaupun tetap ingin menggunakan teknik ini harus dipastikan bahwa petugas yang melakukan adalah tenaga medis yang tepat, seperti ahlinya, yaitu dokter spesialis bedah.

"Kalau tepat menggunakannya sangat bermanfaat karena sunat jadi cepat, menjahit jadi lebih mudah dan risiko infeksi lebih mudah. Tapi kalau penggunaan salah bisa timbulkan luka bakar. Bukan manfaat yang didapat. Bukan cepat sembuh. Jadi lebih lama dan merusak jaringan kulit pada penis," tegasnya.

Dokter Mahdian paling merekomendasikan metode modern, yaitu Mahdian Klem yang lebih sedikit risiko dan hanya membutuhkan waktu singkat. Pada metode operasi ini, waktu yang dibutuhkan hanya lima menit dan pasien bisa kembali beraktivitas dalam waktu satu hari. 
Mahdian Klem adalah satu-satunya klem produksi anak bangsa negeri sendiri. Hebatnya, Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) bahkan telah merekomendasi metode ini. Alasannya, karena memperkecil risiko terjadinya infeksi silang yaitu infeksi karena pemakaian alat yang sama pada satu pasien ke pasien lain, mengingat teknik ini hanya sekali pakai.
"Teknik ini aman untuk segala usia, apalagi untuk bayi yang suka mengompol. Tak ada larangan untuk tak boleh kena air setelah itu," tambahnya. 
Menggunakan Mahdian Klem juga lebih mudah bagi operator (dokter, perawat), tidak memerlukan rotasi saat pemasangan tabung dan penjepit klem sehingga posisi penis tidak miring setelah pelepasan tabung, secara kosmetik lebih baik. (*)

Selain electric cauter, dr Mahdian menjelaskan ada juga teknik sunat klem yang lebih simpel. Prosesnya tidak kurang dari  lima menit dan pasien bisa kembali beraktivitas dalam waktu satu hari. 

Sunat klem diklaim minim infeksi silang yaitu infeksi karena pemakaian alat yang sama pada satu pasien ke pasien lain, mengingat teknik ini hanya sekali pakai.


"Teknik ini aman untuk segala usia, apalagi untuk bayi yang suka mengompol. Tak ada larangan untuk tak boleh kena air setelah itu," pungkasnya. 

1
3

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini