Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Jelang 23 Tahun Tragedi Trisakti Berdarah, Gugurnya 4 Martir Reformasi

Fahmi Firdaus , Jurnalis · Rabu 05 Mei 2021 15:41 WIB
https: img.okezone.com content 2021 05 05 620 2406055 jelang-23-tahun-tragedi-trisakti-berdarah-gugurnya-4-martir-reformasi-na1Gr6MXf9.jpg Foto: Antara

JAKARTA – Empat mahasiswa Universitas Trisakti, gugur ditembak aparat keamanan dan puluhan lainnya luka-luka akibat dipukul serta diterjang peluru saat berunjuk rasa menuntut reformasi pada 12 Mei 1998.

(Baca juga: Kabinda Papua Mayjen Anumerta Putu Danny Ternyata Komandan Serda Ucok di Pasukan Khusus)

Empat mahasiswa Trisakti yang gugur adalah Elang Mulia Lesmana, Heri Hertanto, Hafidin Royan, dan Hendriawan Sie. Mereka mengorbankan nyawa untuk mewujudkan demokrasi yang dikekang penguasa Orde Baru Soeharto dengan berbagai jargon. Kelak keempat aktivis itu dikenal sebagai Pahlawan Reformasi.

Tragedi Trisakti akan memasuki ‘usianya’ yang ke-23 tahun pada 12 Mei nanti. Selama dua dekade lebih peristiwa berdarah tersebut, sudah banyak perubahan secara fundamental pada sistem ketatanegaraan Indonesia, termasuk soal kebebasan berpendapat di muka umum, kebebasan berpolitik, kebebasan dalam memilih pemimpin, hingga dalam hal penegakan hukum.

Pengamat Hukum Universitas Trisakti Radian Syam mengatakan, bahwa Tragedi Trisakti 12 Mei 98 adalah luka yang dalam untuk negara ini.

(Baca juga: Eksklusif! Alex Hamberi Pentolan Teroris KKB Papua dan Anak Buahnya Serahkan Diri)

“Political good will dalam penuntasan kasus 12 Mei menjadi sangat amat penting, karena setiap orang sama di mata hukum dan berhak atas keadilan,” ujarnya kepada Okezone, Rabu (5/5/2021).

Peristiwa ini kata dia, pecah setelah para mahasiswa Trisakti memperjuangkan keadilan untuk memberantas korupsi, kolusi, dan nepotisme yang berujung pada gugurnya empat pejuang reformasi dari mahasiswa Universitas Trisakti.

“Perlu diingat dan dicatat dalam sejarah bangsa ini bahwa apa yang telah kita raih dan rasakan saat ini, termasuk demokrasi, disebabkan karena bagian dari perjuangan mahasiswa pada tahun 98. Jangan pernah melupakan semangat reformasi, terlebih melupakan peristiwa Tragedi Trisakti 12 Mei 98,” ujarnya.

Penegakan hukum yang berlandaskan norma etika, kata Radian, menjadi kata kunci dalam menjalankan reformasi.

“Basmi korupsi hingga tuntas sampai ke akarnya, kikis oligarki di segala sektor, agar apa yang menjadi cita-cita reformasi dapat terwujud. Bangsa ini harus terus belajar dari sejarah karena sejarah menjadikan kita menjadi bangsa yang besar,” tutupnya.

(fmi)

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini