Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Menimbang Potensi Vaksin Booster dibanding Mutasi Berbahaya Varian Covid-19

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Jum'at 27 Agustus 2021 12:26 WIB
https: img.okezone.com content 2021 08 27 620 2462029 menimbang-potensi-vaksin-booster-dibanding-mutasi-berbahaya-varian-covid-19-TvBmfHeoWU.jpg Ilustrasi. (Foto: Shutterstock)

MUTASI virus Covid-19 memang menimbulkan banyak kekhawatiran, apalagi mutasi virus tersebut membuat efektivitas vaksin menurun. Oleh karena itu, beberapa negara pun memutuskan untuk memberikan dosis tambahan atau booster pada warganya.

Tapi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) melihat adanya potensi mutasi virus Covid-19 yang lebih parah di negara-negara minim vaksin, jika masyarakat di negara tersebut banyak yang tidak mendapatkan vaksin.

Direktur Jenderal WHO Tedros Adhanom Ghebreyesus meminta moratorium dua bulan pada suntikan penguat Covid-19 karena banyak negara berpenghasilan rendah dan menengah masih berjuang untuk menyediakan vaksin yang cukup untuk warganya.

Mengutip Thehill seperti dilaporkan oleh Associated Press, Kepala WHO berpendapat bahwa tidak meratanya vaksin akan memicu risiko munculnya varian Covid-19 yang lebih menular. Ini bukan pertama kalinya WHO meminta negara-negara tersebut menunda vaksin booster.

Pada awal bulan ini, statement yang sama juga dikeluarkan oleh WHO dengan alasan bahwa belum dapat dibuktikan apakah suntikan booster lebih efektif dalam mencegah penularan Covid-19 daripada hanya dua suntikan.

Pakar kesehatan pun telah memperingatkan bahwa selama populasi besar orang tetap tidak divaksinasi, risiko varian Covid-19 yang lebih menular seperti varian delta akan muncul.

“Virus akan mendapat kesempatan untuk beredar di negara-negara dengan cakupan vaksinasi rendah, dan varian delta bisa berkembang menjadi lebih ganas, dan pada saat yang sama juga bisa muncul varian yang lebih kuat,” kata Ghebreyesus.

Memang, sejumlah ahli telah memperingatkan bahwa varian super dari virus Covid-19 dapat muncul dan menginfeksi umat manusia pada tahun depan. Diprediksi, masyarakat yang enggan divaksin Covid-19 berpotensi menjadi penular dari virus tersebut.

Sebagaimana diketahui, penular super atau dikenal dengan istilah super spreader adalah julukan bagi orang yang terinfeksi covid yang menyebarkan penyakit ke orang lain dengan jumlah di atas rata-rata. Super spreader kebanyakan akan memulai rantai penularan baru dan menciptakan transmisi komunitas (klaster) untuk memulai fase berikutnya.

Secara rata-rata, Covid 19 dapat menyebar ke antara 2 hingga 2,5 orang. Ahli Imunologi di Zurich, Profesor Sai Reddy, memberikan peringatan keras mengenai varian super dari virus corona ini. Menurutnya campuran strain yang sudah ada saat ini dapat mengakibatkan epidemi baru dan lebih berbahaya.

"Covid-19 bisa lebih buruk dari apa yang kita lihat sekarang. Akibatnya, lebih dari satu kali vaksinasi akan diperlukan dalam beberapa tahun ke depan karena dunia akan terus melawan ancaman yang berkembang. Bahkan mungkin sampai akhir hidup manusia," terang Profesor Sai.

Lebih lanjut ia juga menjelaskan bahwa viral load (paparan virus) dari varian Delta begitu tinggi. Sehingga tanpa vaksinasi Covid-19, setiap orang yang terinfeksi varian tersebut bisa menjadi super spreader.

Menurutnya varian Delta bukan lagi Covid-19 seperti dahulu, ia takut siapa pun yang menolak untuk mendapatkan vaksin akan terinfeksi. Dokter Reddy mengatakan bahwa semua anak harus divaksinasi karena ada cukup bukti bahwa vaksin tidak menimbulkan risiko bagi anak di bawah usia 12 tahun.

"Kemungkinan besar akan muncul varian baru di mana kita tidak bisa lagi hanya mengandalkan vaksinasi. Jadi kita harus bersiap untuk lebih dari satu vaksinasi dalam beberapa tahun ke depan, yang terus beradaptasi dengan varian baru. Varian Beta dan Gamma sebagian dapat menghindari antibodi, sedangkan varian Delta sangat menular," tuntasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini