Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Cadangan Berlimpah, Begini Cara Maksimalkan Gas Alam

Tim Okezone, Jurnalis · Kamis 23 September 2021 08:24 WIB
https: img.okezone.com content 2021 09 23 620 2475572 cadangan-berlimpah-begini-cara-maksimalkan-gas-alam-3p3IbX5ccL.jpg Gas Alam Cair/LNG

JAKARTA - Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menyatakan, Indonesia banyak memiliki stranded gas alias ladang gas dan perlu teknologi baru untuk memasarkannya secara komersial. Apalagi saat ini kebutuhan energi yang cukup besar ada di smelter tambang di mana LNG bisa menjadi salah satu sumber energi bagi smelter tersebut.

“Kita melihat saat ini kapal-kapal LNG kita belum bisa mensupply yang dalam skala kecil. Ini juga merupakan tantangan ke depan. Kita harus bisa menggunakan kapal-kapal kecil untuk bisa mensupply LNG kepada smelter di Sulawesi, Maluku dan juga yang terdapat di Papua,” kata Sekretaris SKK Migas Taslim Yunus dalam webinar seperti dikutip, Jakarta, Kamis (23/9/2021).

Baca Juga: Indonesia Miliki Cadangan Gas Alam Cair 135,55 TSCF

Dia menjelaskan, stranded gas terdapat di lapangan South Sebuku, Wasambo, Jambu Aye Utara, Asap Kido dan Merah. Jika tidak bisa menemukan terobosan dalam waktu dekat untuk memasarkannya, maka cadangan gas tersebut akan tetap tidak dapat dimanfaatkan.

"Ini juga merupakan tantangan untuk berinvestasi di Indonesia. Kalau dia melihat cekungan (hidrokarbon) itu lebih banyak untuk gas, nanti kalau temukan gas, kira-kira ke mana saya menjual gasnya," ujar dia.

Head Engineering and Technology PGN Suseno mengatakan bahwa pihaknya terus membuat inovasi dan terobosan baru untuk lebih meningkatkan pemanfaatan gas di dalam negeri. "Pemanfaatan gas itu berbeda dengan BBM, karena harus didukung infrastruktur yang bagus. Untuk memanfaatkan gas, harus dibangun jaringan pipa gas, terminal timbun dan lainnya," ujarnya.

Namun, dalam dekade belakangan ini, PGN mulai mengembangkan gas menjadi LNG atau dalam bentuk cair. Dengan begitu, LNG bisa dikirimkan dengan kapal-kapal tangker dari pusat produksi atau kilang LNG ke konsumen. "Ini mulai dilakukan termasuk oleh PGN sekitar tahun 2012," jelas Suseno.

Suseno menambahkan, sejalan dengan program bauran energi nasional yang terus mengedepankan peran energi bersih, termasuk gas, maka pasar gas ke depan diyakini akan semakin besar. Terlebih, pemerintah akan menghentikan PLTU berbasis batu bara mulai tahun 2025. "Implikasinya, kebutuhan gas di dalam negeri akan semakin besar. PGN pun harus menyikapi ini dengan bijak," katanya.

Tren konsumsi gas dalam negeri menurutnya kini mulai meningkat, meski belum sesuai harapan. Sementara, konsumen gas terbesar masih PLN dan sebagian industri, khususnya di Indonesia bagian barat, yakni di Jakarta dan Jawa Barat, Surabaya Jawa Timur, dan Medan Sumatera Utara dimana infrastruktur gasnya sudah lebih baik.

Direktur Eksekutif Energy Watch Mamit Setiawan menambahkan, perlu peran semua pihak terutama pemerintah untuk mendorong penciptaan pasar gas baru di dalam negeri. Formulasi harga gas, termasuk untuk industri, menurut Mamit harus adil dan menguntungkan semua pihak.

"Jadi konsumen gas untung karena mendapatkan harga terbaik, dan produsen atau KKKS juga untung dari investasi yang ditanamkan di Indonesia. Inilah substansi harga terbaik itu harus bisa diwujudkan," tandasnya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini