Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Ini Rekomendasi Ahli Perminyakan Percepat Produksi Migas

Ahmad Hudayanto, Jurnalis · Jum'at 26 November 2021 11:02 WIB
https: img.okezone.com content 2021 11 26 620 2507757 ini-rekomendasi-ahli-perminyakan-percepat-produksi-migas-NAIm9kcES8.jpg Produksi Minyak (Foto: Okezone)

JAKARTA - Ikatan Ahli Teknik Perminyakan Indonesia (IATMI) memberikan rekomendasi peningkatan dalam rangka percepatan resources to production kepada pemerintah.

Rekomendasi diberikan dalam mendukung upaya pemerintah untuk meningkatkan produksi satu juta barrel oil per day (bopd) dan 12 Bscfd pada 2030 untuk mendorong perekonomian.

Komda&Steering Commitee IATMI Henricus Herwin mengatakan beberapa rekomendasi yang diberikan adalah pertama aspek efisiensi biaya, baik dari sisi operasi dan biaya pengembangan proyek menjadi sangat penting seperti penerapan teknologi digital, implementasi metode perbaikan proses bisnis, seperti sharing knowledge serta benchmarking antar perusahaan.

“Penerapan teknologi tepat guna untuk meningkatkan tingkat pengurasan lapangan seperti injeksi air, stimulasi produksi dan EOR akan membantu upaya peningkatan produksi. Serta dukungan dari pemerintah dalam bentuk insentif baik fiskal maupun non fiskal,” kata Henricus dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Jumat (26/11/2021).

Baca Juga: Sektor Hulu Migas Jadi Katalisator Kemajuan Pembangunan di Daerah

Menurut Henricus, SKK Migas telah menyampaikan keterbukaan dan kesiapan dalam mendorong pencapaian target produksi 2030, seperti memberikan kebebasan kepada KKKS untuk memilih skema kontrak antara PSC cost recovery atau PSC gross split. “Serta terus berupaya melakukan perbaikan untuk mempermudah perizinan,” katanya.

Henricus menambahkan diperlukan keterbukaan data terkait efisiensi dan strategi pembiayaan proyek antara KKKS dan SKK Migas untuk mendorong perubahan strategi pengelolaan dan alih tukar praktik terbaik antar KKKS.

Rekomendasi juga menyoroti perlunya akselerasi proses persetujuan izin pengembangan lapangan migas, terutama bagi lapangan tua di Indonesia dan revisi terkait aturan dalam pedoman tata kerja .

“Imipian-impian ini semua tentunya perlu didukung oleh talenta-talenta yang baik. IATMI mendorong agar orkestrasi pengetahuan yang berkesinambungan dapat dilakukan dengan melibatkan diaspora migas Indonesia yang tersebar di seluruh dunia,” katanya.

Henricus menambahkan perguruan tinggi juga perlu didorong agar dapat memperkaya kurikulum yang ada dengan topik-topik baru, seperti EOR, teknologi terkait pengembangan potensi panas bumi, teknologi carbon capture utilization and storage (ccus) dan juga hal terkait migas non konvensional.

Ketua Pelaksana IATMI Virtual Conference Ngurah Beni Setiawan mengatakan rekomendasi yang diberikan IATMI antara lain mengembangkan sumber daya dengan CO2 di lepas pantai pasti ada tantangan. Pengembangan East Natuna perlu didorong sebagai salah satu upaya dukung target produksi migas nasional pada 2030.

“Blok East Natuna memiliki kandungan gas yang besar. Tantangannya, East Natuna miliki kandungan CO2 90 persen, Lokasinya terpencil.aspek geopolitik dan geoekonomi kawasan ini perlu menjadi salah satu faktor yang dipertimbangkan,” katanya.

Dukungan pemerintah juga sangat diperlukan untuk mengembangkan proyek raksasa seperti Blok East Natuna. Apalagi disaat bersamaan Indonesia ada tantangan untuk menurunkan emisi karbon.

“Blok Natuna miliki kandungan gas cukup besar, namun juga mempunyai kandungan CO2 besar yang perlu dicari solusinya agar bisa dukung program penurunan emisi karbon,” katanya.

Direktur Jenderal Migas Kementerian ESD Tutuka Ariadji mengatakan dunia semakin kompetitif untuk melakukan eksplorasi dan eksploitasi karena akan terjadi transisi energi. Indonesia sudah menegaskan akan terjadi transisi energi dan perubahan iklim. Eksplorasi agresif dan eksploitasi yang kuat didorong dengan SDM yang kompeten Dan teknologi maju menjadi kunci.

Aliansi strategis sangat penting dengan gunakan big data Dan perlu terobosan di regulasi. Saat ini CCS dan CCUS sangat penting, sebagai enabler untuk strategi peningkatan produksi migas dan jaga strategi perubahan iklim.

“Masing-masing institusi dan asosiasi, lembaga, harus bekerja keras, harus bangkit, sadar bahwa Indonesia berada di ambang krisis. Kita harus pandai memanfaatkan potensi yang ada,” kata Tutuka.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini