Share
Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

WHO Sebut Pandemi Covid-19 Sebabkan Tingkat Depresi Naik 25%

Pradita Ananda, Jurnalis · Selasa 15 Maret 2022 13:12 WIB
https: img.okezone.com content 2022 03 15 620 2561866 who-sebut-pandemi-covid-19-sebabkan-tingkat-depresi-naik-25-HoRuwN6Ils.jpg Ilustrasi Stres. (Foto: Shutterstock)

LAPORAN terbaru yang dirilis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) menyebutkan terjadi peningkatan prevalensi secara global dalam hal kecemasan dan depresi. Mereka yang mengalami depresi tercatat mencapai 25 persen pada tahun pertama pandemi Covid-19.

Laporan singkat tersebut mencakup perkiraan dari studi terbaru Global Burden of Disease, yang menunjukkan bahwa situasi pandemi telah berdampak secara tidak proporsional terhadap kaum muda dan perempuan.

Meningkatnya kecemasan dan depresi pada masyarakat global tersebut, merupakan tekanan yang belum pernah terjadi sebelumnya yang mana disebabkan oleh isolasi sosial akibat pandemi.

Perasaan seperti kesepian, takut terinfeksi Covid-19, penderitaan dan kematian untuk diri sendiri dan orang yang dicintai, kesedihan setelah berduka, hingga merasa khawatir soal keuangan semuanya ini disebut sebagai faktor yang menyebabkan kecemasan dan depresi.

Mengutip Ny Post, dari catatan WHO, faktor kelelahan bahkan menjadi pemicu utama pemikiran bunuh diri di kalangan kelompok para petugas kesehatan. Disebutkan pula, orang-orang dengan kondisi kesehatan fisik tertentu sebelumnya lebih berpeluang mengalami gejala gangguan mental.

Berdasarkan catatan WHO, terjadinya peningkatan prevalensi masalah kesehatan mental ini bertepatan dengan terganggunya layanan kesehatan mental dan juga kondisi neurologis.

Banyak negara juga yang melaporkan adanya gangguan besar dalam layanan penyelamatan jiwa untuk kesehatan mental, termasuk untuk soal pencegahan bunuh diri.

Direktur Jenderal WHO, Dr. Tedros Adhanom Ghebreyesus mengatakan sebetulnya data tentang dampak pandemi pada kesehatan mental masyarakat dunia ini hanya sedikit terlihat dari yang sebenarnya. “Informasi yang kami miliki sekarang tentang dampak Covid-19 pada kesehatan mental dunia hanyalah puncak gunung es,” ujar Dr. Tedros.

Ia menegaskan, fakta ini semestinya bisa menjadi sinyal jelas bagi semua negara di dunia agar lebih memperhatikan kesehatan mental rakyatnya.

“Ini adalah peringatan bagi semua negara untuk lebih memperhatikan kesehatan mental dan melakukan tugas yang lebih baik dalam mendukung kesehatan mental populasi penduduk mereka,” pungkasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini