Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Yuk Mulai Jalani Hidup Minim Sampah

Tim Okezone, Jurnalis · Jum'at 10 Juni 2022 14:24 WIB
https: img.okezone.com content 2022 06 10 620 2609242 yuk-mulai-jalani-hidup-minim-sampah-v0Q7W6TXJy.jpg Ilustrasi Sampah Plastik. (Foto: Shutterstock)

SEMENJAK pandemi Covid-19, gaya hidup sehat memang semakin populer. Tidak heran, gaya hidup ramah lingkungan pun semakin banyak dilakukan. Melakukan gaya hidup ramah lingkungan pun tidaklah sulit.

Pegiat gaya hidup ramah lingkungan Astri Puji Lestari mengatakan, gaya hidup ramah lingkungan bisa dimulai dengan mengungari sampah di rumah. Semua bisa dimulai dari hal yang sederhana, seperti membawa botol minuman sendiri demi mengurangi sampah botol plastik, membawa tas belanja dan sedotan sendiri, atau merencanakan menu mingguan sehingga bisa menyiapkan wadah untuk berbelanja bahan yang diperlukan.

Mengingat perjalanan mengurangi sampah ini berlaku seumur hidup, Astri mengingatkan untuk tetap fleksibel ketika rencana mengurangi sampah terkendala satu dan lain hal. "Kalau sesekali gagal, enggak apa-apa," ujarnya seperti dilansir dari Antara.

Sampa

Agar perjalanan mengurangi sampah menjadi lebih mulus, orang-orang di sekitar juga sebaiknya menjalani gaya hidup yang sama. Dengan dukungan dari orang-orang terdekat, hidup minim sampah bisa lebih mudah diterapkan.

Menurut Astri, ketika berkomitmen untuk menerapkan gaya hidup ramah lingkungan, dia menjadi lebih kritis terhadap diri sendiri. Sebelum membeli sesuatu, dia akan mempertimbangkan masak-masak apakah benda yang menarik perhatiannya merupakan keinginan atau kebutuhan. "Saya merasa punya medium untuk terhadap kebutuhan diri sendiri," katanya.

Menerapkan gaya hidup ramah lingkungan tak semudah membalikkan telapak tangan. Ada daerah yang sudah punya sarana mumpuni sehingga lebih mudah dalam mengurangi, menggunakan kembali dan mendaur ulang sampah, tapi ada juga daerah yang sarananya masih terbatas."Tantangannya bagaimana buat sistem yang cocok untuk diri sendiri, selain juga dari godaan malas, belum dapat dukungan dari support system dan faktor lainnya," kata dia.

Head of Collect Waste4Change dan Project Manager DIVERT Rizky Ambardi menambahkan, ekonomi sirkular yang fokus pada memanfaatkan sampah agar tetap bernilai lewat daur ulang menghadapi tantangan kurangnya pasokan. Meski jumlah sampah plastik mencapai jutaan ton, tidak semua masuk layak untuk menjadi bahan baku daur ulang.

Ia menuturkan, pabrik pengolahan daur ulang sampah plastik sebetulnya sudah mulai bermunculan, namun sampah-sampah yang masuk kriteria masih terbatas. Untuk bisa didaur ulang, sampah plastik harus sudah dipilah dan dibersihkan. Bank sampah dan Tempat Pembuangan Sampah terpadu dengan sistem Reuse, Reduce dan Recycle berperan dalam menyukseskan proses daur ulang.

"Kita juga enggak benar-benar tahu data suplai (sampah) yang tersedia. Enggak ada live tracking sampah yang dihasilkan berapa," ujarnya.

Belum lagi bila sampah yang sebetulnya layak didaur ulang ternyata belum dipilah sehingga kotor karena tercampur dengan sampah lain, sehingga sulit atau tidak bisa didaur ulang.

Head of Sustainable Environment Unilever Indonesia Foundation, Maya Tamimi, mengatakan pihaknya selalu mendukung ekonomi sirkular dan punya target menggunakan minimal 25 persen plastik daur ulang dalam kemasannya pada 2025.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini