Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Hari Kesehatan Mental Sedunia, Pemulihan Pasca-Pandemi Harus Jadi Fokus

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 10 Oktober 2022 16:33 WIB
https: img.okezone.com content 2022 10 10 620 2684231 hari-kesehatan-mental-sedunia-pemulihan-pasca-pandemi-harus-jadi-fokus-zXzRcj1gwn.jpg Ilustrasi Gangguan Kesehatan Mental. (Foto: Shutterstock)

HARI ini memang diperingati sebagai Hari Kesehatan Mental Sedunia. Badan Kesehatan Dunia (WHO) menyebut, di wilayah Asia Tenggara diperkirakan 1 dari 7 orang hidup dengan gangguan mental. Parahnya, kesenjangan pengobatan masih terjadi antara 70-95 persen.

Pasalnya, WHO melihat bahwa perawatan dan layanan kesehatan mental saat ini, khususnya di Asia Tenggara, masih sangat rendah. Padahal, sudah menjadi hak bagi setiap orang untuk mendapatkan kesehatan paripurna, termasuk kesejahteraan mental.

Krisis pandemi Covid-19 memperburuk kondisi kesehatan mental masyarakat. Tercatat, pada 2020 kasus gangguan depresif berat diperkirakan meningkat lebih dari 27 persen secara global dan gangguan kecemasan meningkat lebih dari 25 persen.

Kesenjangan layanan kesehatan mental menjadi salah satu prioritas yang coba dibenahi. Itu kenapa, Deklarasi Paro terbit dengan tujuan memastikan bahwa semua orang mendapatkan akses perawatan kesehatan mental yang berkualitas, dekat dengan tempat tinggal, dan tidak menjadi beban biaya kehidupan.

Karena itu, WHO meminta kepada setiap negara untuk memastikan Puskesmas memiliki sistem pelayanan kesehatan mental yang kyar dengan fokus pada perluasan tenaga kesehatan mental spesialis maupun non-spesialis.

Kemudian, WHO juga berharap terjadi pembangunan jaringan kesehatan mental masyarakat yang berbasis bukti dan berorientasi pada hak, serta meningkatkan kolaborasi dengan masyarakat sipil dan populasi yang terkena dampak.

Follow Berita Okezone di Google News

Selain itu, WHO juga minta kepada setiap negara untuk memperkuat program nasional maupun wilayah untuk mengatasi bunuh diri atau menyakiti diri sendiri, serta penggunaan narkoba dan alkohol. Hal yang tak kalah penting adalah memerangi stigma dan diskriminasi terkait kesehatan mental.

"Kesehatan mental adalah penentu pembangunan sosial dan ekonomi suatu negara, pun menjadi bagian integral dari kesehatan dan kesejahteraan secara umum, dan bahwa akses ke perawatan adalah hak asasi manusia yang sangat mendasar," ungkap dr Poonam Khetrapal Singh, Direktur Regional WHO untuk Asia Tenggara.

"Tidak ada kesehatan tanpa kesehatan mental. Di tengah situasi pemulihan Covid-9, bersama kita harus memperdalam komitmen, membentuk kembali lingkungan, dan memperkuat kepedulian untuk mengubah kesehatan mental demi masa depan yang lebih baik bagi semua," kata dr Poonam Khetrapal Singh.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini