AKHIRNYA kasus gangguan ginjal akut di Indonesia mulai berhenti. Tercatat per 6 November kemarin tidak ada lagi kasus gagal ginjal akut yang dilaporkan.
Meski demikian, Kemenkes masih menunggu kedatangan 70 vial Fomepizole dari Amerika Serikat. Apa jadinya kalau obat-obatan tersebut tiba di Indonesia dan tidak dibutuhkan karena pasien di rumah sakit terus berkurang?
Juru Bicara Kemenkes Mohammad Syahril menjawab persoalan tersebut. Menurutnya, sekalipun nanti tidak ada lagi pasien gangguan ginjal akut di rumah sakit, obat tetap bisa bermanfaat untuk kasus keracunan.
"Kami beli (Fomepizole) dari AS dengan jumlah yang tidak banyak. Jika memang pasien gangguan ginjal akut tidak ada lagi yang dirawat di rumah sakit karena kasus semakin terkendali, maka obat akan jadi stok negara, kami simpan," terang Syahril dalam konferensi pers virtual.
Syahril melanjutkan, sebagai satu negara yang besar, penting bagi kita untuk memiliki stok obat. Jadi, jika suatu saat kejadian serupa gangguan ginjal akut terjadi lagi, Indonesia sudah aman dan bisa dengan sigap mengatasi penyakit.
"Sebagai negara besar, kita harus punya stok obat. Jadi, 100 vial Fomepizole yang diproyeksi jadi obat stok, akan jadi obat antidotum yang kita miliki," terangnya.
"Lagipula, obat stok ini tetap aman diberikan ke masyarakat jika masa kadaluarsanya terjaga," tambah Syahril.
Follow Berita Okezone di Google News








