Kumpulan Berita
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) menyampaikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menghanguskan puluhan hektare lahan di Kalimantan pada Jumat 10 Juli 2026. Peristiwa pertama terjadi di Kota Banjarbaru, Kalimantan Selatan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengungkap sejumlah kebakaran hutan dan lahan (karhutla) terjadi di Pulau Jawa. Kebakaran yang berlangsung pada Jumat 10 Juli 2026 itu menghanguskan sekitar 8 hektare lahan di sejumlah lokasi.
Sekretaris Utama Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Rustian, menyerahkan kunci rumah hunian tetap (huntap) mandiri kepada warga terdampak bencana hidrometeorologi Siklon Senyar di Sumatera Barat (Sumbar) pada Jumat 10 Juli 2026. Penyerahan kunci ini sebagai tanda telah selesainya pembangunan unit hunian tetap sekaligus menjadi dorongan kepada warga untuk segera pindah dan menempati rumah baru tersebut.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) bersama kementerian/lembaga serta pemerintah daerah melaksanakan operasi modifikasi cuaca (OMC) di sejumlah wilayah prioritas. Langkah ini dilakukan sebagai upaya mengantisipasi dampak fenomena El Nino dan musim kemarau 2026.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan Barat masih menjadi yang terluas secara nasional. Hingga akhir Juni 2026, luas lahan yang terbakar mencapai 28.216,31 hektare.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat bencana kekeringan mulai meluas di sejumlah daerah seiring memasuki musim kemarau. Dalam laporan terbaru periode Kamis (3/7/2026) hingga Jumat (4/7/2026), wilayah di Jawa Barat dan Jawa Tengah menjadi daerah yang terdampak paling signifikan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) akan mengerahkan helikopter water bombing untuk membantu memadamkan kebakaran yang melanda Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Jatiwaringin, Kecamatan Mauk, Banten, pada Selasa 30 Juni 2026.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan krisis air bersih melanda sejumlah wilayah di Kota Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB). Akibat kondisi tersebut, sebanyak 1.129 kepala keluarga (KK) terdampak.