Kumpulan Berita
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) melaporkan sedikitnya 62 hektare lahan terbakar di sejumlah wilayah Indonesia dalam periode 26-27 2026. Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) tersebut terjadi di Sulawesi Tengah, Sulawesi Selatan, Bali, dan Jawa Timur.
Korban hilang akibat banjir bandang di Arosuka, Kabupaten Solok, ditemukan meninggal dunia pada Jumat 25 September 2026. Dengan demikian, total korban tewas akibat banjir bandang tersebut menjadi dua orang.
Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Letjen TNI Suharyanto, meluruskan pernyataannya tentang roda kehidupan masyarakat berjalan normal di tengah penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) dan dampak kabut asap di Kalimantan, yang disampaikannya dalam rapat terbatas (ratas) bersama Presiden RI Prabowo Subianto.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) berkomitmen menggencarkan upaya pemadaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla), terutama di sekitar 209 hektare (ha) lahan gambut yang masih terbakar di enam provinsi prioritas, yakni Riau, Jambi, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Selatan.
BNPB bersama Pemerintah Kabupaten Manggarai Timur, Nusa Tenggara Timur (NTT), telah menyerahkan tujuh unit hunian sementara (huntara) kepada warga terdampak bencana. Tujuh unit huntara yang diserahkan berlokasi di Desa Gurung Liwut, Kecamatan Borong, Kabupaten Manggarai Timur.
Banjir bandang melanda Nagari Batang Barus, Kecamatan Gunung Talang, Kabupaten Solok, Sumatera Barat, pada Senin 21 September 2026 sekitar pukul 19.30 WIB. Peristiwa tersebut dipicu intensitas hujan yang cukup tinggi.
Upaya pemadaman masih berlangsung hingga Minggu, 20 September.
Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) melanda kawasan Gunung Wilis, tepatnya di Desa Ngliman, Kecamatan Sawahan, Kabupaten Nganjuk, Jawa Timur. Hingga Sabtu (19/9/2026), api masih menyala di kawasan puncak Gunung Wilis.