Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Virus Corona Mengiringi Penjemput Jenazah Palang Hitam

Fahreza Rizky, Jurnalis · Minggu 24 Mei 2020 14:29 WIB
https: img.okezone.com content 2020 05 24 620 2218925 virus-corona-mengiringi-penjemput-jenazah-palang-hitam-2xDKQdIzDi.jpg Anggota Palang Hitam sedang mengevakuasi jenazah/Foto: Istimewa

JAKARTA - Bekerja berdampingan dengan jenazah bukanlah hal baru bagi Tri (42). Ia adalah seorang anggota tim mobil ambulance pengangkut jenazah atau biasa disebut Palang Hitam.

Palang Hitam adalah organisasi atau satuan tugas yang sudah ada sejak zaman Belanda. Namun kala itu dikelola pihak swasta.

Barulah pada masa Gubernur DKI Jakarta, Ali Sadikin, Palang Hitam berada di bawah Dinas Kehutanan dan Pertamanan. Status anggotanya adalah pegawai harian lepas (PHL).

Tugas Palang Hitam yakni menjemput atau pemulasaraan jenazah, tergantung permintaan dari para pemohon. Jenazah yang diurus melingkupi korban pembunuhan, korban kecelakaan, hingga korban pandemi corona.

Baca juga: Cerita sang Penjemput Mayat Tak Bisa Berlebaran dengan Keluarga

Pada masa pandemi Covid-19, Tri mengakui memiliki perasaan was-was terpapar virus tersebut. Pasalnya, anggota Palang Hitam juga berada di garda depan dalam konteks penjemputan jenazah hingga ke tempat peristirahatan terakhir.

Anggota palang hitam

Tim Palang Hitam sedang mengevakuasi jenazah/Foto: Istimewa

"Iya ngeri, pasti takut, tapi ini risiko. Was-was sih selalu ada, tapi yang pasti kita jaga diri aja, kan sudah ada protokolnya," ucap Tri saat ditemui Okezone di Markas Palang Hitam, Jalan KS Tubun, Petamburan, Tanah Abang, Jakarta Pusat, Sabtu (23/5/2020).

Tri menuturkan, biasanya rumah sakit menelepon Palang Hitam untuk permohonan ambulans guna mengantarkan jenazah pasien Covid-19 ke tempat pemakaman yang sudah ditentukan Pemprov DKI, yakni TPU Pondok Ranggon, Jakarta Timur dan TPU Tegal Alur, Jakarta Barat.

"Biasanya dari rumah sakit telepon kita. Kita input data lalu meluncur ke rumah sakit dengan atau tanpa peti mati. Lalu kita antar ke pemakaman atau TPU yang sudah ditentukan oleh pemerintah," ucap dia.

Saat berjibaku dengan jenazah pasien Covid-19, anggota Palang Hitam dibekali alat pelindung diri (APD). APD tersebut berasal dari Pemprov DKI dan donasi dari para dermawan.

Selain jenazah corona, Palang Hitam juga melayani permintaan penjemputan jenazah korban pembunuhan, korban kecelakaan hingga mayat tanpa identitas. Dalam hal ini, aparat kepolisian biasanya menelepon Palang Hitam agar segera mengirimkan ambulans.

Anggota palang hitam

Seorang anggota Palang Hitam, Tri/Foto: Fakhreza Rizky-Okezone

"Kalau ada penemuan, dari polisi telepon kita lalu kita meluncur ke TKP. Dari situ, kita antar jenazahnya ke RS Cipto atau RS Fatmawati atau RS Polri," jelas Tri.

Tri bercerita, kala itu dirinya pernah menjemput dan membantu evakuasi jenazah yang sudah membengkak hingga tidak bisa dikeluarkan dari kos-kosan tempat korban tersebut.

Saat hendak dikeluarkan, ukuran jenazah yang sudah membesar tak muat di kusen pintu. Alhasil, petugas membongkar tembok di sisi pintu tersebut agar mayat itu bisa dikeluarkan dan mendapatkan penanganan selanjutnya.

"Kadang ada posisi TKP yang sulit, kadang orangnya udah bengkak karena berhari-hari, nggak muat (saat mau dikeluarkan) di pintu, caranya kita bongkar pintunya sama yang punya kos-kosan atau kita paksa miring-miring," ungkap Tri.

Pekerjaan yang membuatnya harus berdampingan dengan mayat tak membuatnya gentar. Justru ia bersemangat karena ini merupakan tugas kemanusiaan.

"Dari awal saya tidak ada rasa jijik dan rasa takut, karena saya ingin membantu orang, kemanusiaan," tegasnya.

Anggota Palang Hitam kini berjumlah 48 orang. Dari total itu, mereka membaginya menjadi beberapa tim. Satu tim terdiri dari 12 orang. Ke-12 orang itu harus bersiaga selama 24 jam di kantor. Apabila ada permintaan, barulah mereka 'meluncur' menggunakan mobil ambulans.

Pekerjaan yang menuntut kesiapsiagaan ini kerap menihilkan kebersamaan dengan keluarga. Apalagi pada hari raya Idulfitri seperti sekarang. Namun Tri tak patah arang. Ia sejak awal sudah menyadari konsekuensi yang akan ditanggungnya.

"Ya ada suka dukanya. Sukanya kita senang bisa membantu masyarakat untuk angkut jenazah. Tapi dukanya kalau lagi lebaran gini, kadang anak suka nanyain kok saya piket melulu dan tidak libur. Tapi ini udah jadi pekerjaan dan tanggung jawab saya," tukas dia.

Tri berharap ke depan status pekerjaanya diperbaiki lagi. Meningat tugas dan tanggung jawabnya sangat besar sekali.

"Kita PHL, tapi setiap awal tahun pemberkasan baru (di kontrak). Harapannya, pengennya diperbaiki statusnya agar masa pensiun kita ada harapan," pungkas dia.

(fmh)

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini