Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Bos Pertamina Curhat Tak Nyaman Ditanya Kapan Harga BBM Turun

Giri Hartomo, Jurnalis · Selasa 30 Juni 2020 14:55 WIB
https: img.okezone.com content 2020 06 30 620 2238838 bos-pertamina-curhat-tak-nyaman-ditanya-kapan-harga-bbm-turun-yMYOyoWqLS.jpg Dirut Pertamina Nicke Widyawati (Foto: Okezone)

JAKARTA - PT Pertamina (Persero) untuk kesekian kalinya ditanya mengenai kapan harga Bahan Bakar Minyak (BBM). Sebab beberapa waktu lalu harga minyak mentah dunia sempat turun meskipun saat ini sudah kembali naik.

Direktur Utama PT Pertamina Nicke Widyawati mengatakan, dirinya mengaku tidak nyaman dengan pertanyaan mengapa harga BBM belum juga turun. Apalagi, banyak pihak yang selalu bertanya dan meminta kepada perseroan untuk menurunkan harga BBM.

 Baca juga: Selain Listrik, Subsidi Solar Turun Rp500/Liter pada 2021

"Pak tidak nyaman pak diserang-serang oleh semua orang kenapa BBM tidak turun," ujarnya dalam rapat dengan Komis VII, Senin (30/6/2020).

Menurut Nicke, harga BBM impor beberapa waktu lalu harganya lebih murah dibanding impor minyak mentah. Padahal, impor minyak mentah juga mesti ada tambahan ongkos untuk produksi.

 Baca juga: Ini Perbandingan Harga BBM Indonesia dengan Malaysia hingga Singapura

"Faktanya memang lebih murah impor. BBM impor lebih murah daripada impor crude. Faktanya gitu. Kemarin kemarin," jelasnya.

Pertamina sendiri mengaku ingin memberikan harga BBM yang murah kepada masyarakat jika memang perseroan diizinkan untuk impor. Namun, ada konsekuensi yang harus diambil oleh Pertamina karena harus menutup kilangnya jika memang harus mengimpor.

 Baca juga: Harga BBM Tak Kunjung Turun, Ini Penjelasan Menteri ESDM

Namun sebagai perusahaan plat merah hal ini akan berdampak besar. Apalagi perseroan diminta untuk terus meningkatkan produksi minyaknya.

"Kalau sebelumnya ada spread, ini boro-boro, spread negatif. Jadi sebetulnya bagi Pertamina tutup kilang, tutup sumur itu beli aja jadi trading company lebih menguntungkan. Tapi kan kita BUMN," kata Nicke.

Namun jika kilang-kilang ditutup oleh Pertamina, maka akan memiliki dampak besar pada industri migas dan turunannya. Bahkan para pekreja pun akan terkena dampaknya jika kilang-kilang milik Pertamina ditutup.

"Kalau itu kita tutup itu kan seperti bangunan runtuh, industri turunannya ikut mati, 80 ribu pekerja langsung, kalau tidak langsung 800 ribu, malah juta. Itu juga akan ikut mati. Tapi memang pemahaman ini tidak semua orang memahami," jelasnya.

(rzy)

Loading...

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini