Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Berkumur Air Garam Diklaim Bunuh Virus Corona di Tenggorokan, Benarkah?

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Rabu 23 September 2020 18:17 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 23 620 2282625 berkumur-air-garam-diklaim-bunuh-virus-corona-di-tenggorokan-benarkah-nZjBLpWaMc.jpg Berkumur air garam (Foto : Medicaldaily)

Belum lama ini publik diberitahu bahwa ada obat murah yang dipercaya mampu menyelamatkan nyawa pasien Covid-19, yaitu dexamethasone. Obat steroid tersebut bisa Anda temukan di apotek dan harganya sangat terjangkau.

Kini, peneliti menemukan fakta baru bahwa berkumur air garam dipercaya bisa membunuh virus corona yang ada di area mulut atau orofaring pasien Covid-19. Bahkan, air biasa pun diketahui bisa.

Fakta tersebut tertuang di dalam laporan studi berjudul 'Possible beneficial role of throat gargling in the coronavirus disease pandemic' yang dipublikasi 3 Juni 2020 di NCBI.

Peneliti studi ini berasal dari Departement of Denistry, Kaohsiung, Chang Gung Memorial Hospital and Chang Gung University College of Medicine, Kaohsiung, Taiwan, dan Departement of Ophthalmology, Kaohsiung Chang Gung Memorial Hospital and Chang Gung University College of Medicine, Kaohsiung, Taiwan.

Berkumur

Dalam studi tersebut peneliti di Hong Kong menemukan bahwa pasien yang terinfeksi virus SARS-CoV2 penyebab Covid-19 sindrom pernapasan akut berat memiliki viral load saliva (jumlah virus) tertinggi pada sampel swab di area orofaring selama minggu pertama, terutama hari ke 4.

Baca Juga : Pesona Nathalie Holscher yang Baru Jadi Mualaf, Sule Jadi Saksi!

Lebih lanjut, penelitian di Jerman pun menemukan fakta bahwa pasien terinfeksi Covid-19 dapat diidentifikasi melalui swab test pada tenggorokannya di hari pertama gejala muncul, sekalipun ringan.

"Dalam minggu pertama setelah infeksi, virus di orofaring dan tenggorokan adalah virus yang paling aktif bereplikasi," kata peneliti. Fakta lain ditemukan bahwa urutan genom virus yang diisolasi dari tenggorokan berbeda dengan virus yang diisolasi dari paru-paru pasien yang sama.

Di Taiwan sendiri perintah menggunakan masker sangat gencar disuarakan ke masyarakat. Langkah ini dipercaya dapat mengurangi jumlah virus yang dihirup, sehingga memperkecil juga viral load di awal infeksi.

Dengan konsep pemikiran seperti itu, pemerintah Taiwan sudah menggalakkan penggunaan masker lebih awal masa pandemi. Dampaknya sangat positif, jumlah kasus di negara tersebut relatif kecil. Berbeda dengan negara yang longgar akan perintah pakai maskernya, angka kasus terus memperlihatkan peningkatan.

Nah, pencegahan baru dinilai perlu ada untuk mengurangi angka kejadian, setidaknya tingkat keparahan penyakit Covid-19 bisa ditekan. Karena itu, studi di China keluar dan memperlihatkan fakta bahwa jumlah virus di nasofaring memengaruhi keparahan penyakit pasien.

"Perlu dilakukan pengurangan jumlah virus di jaringan tubuh di awal infeksi, karena hal itu memberi dampak penurunan keparahan penyakit," kata peneliti. Selain itu, SARS-CoV2 memiliki ciri tropisme tenggorokan awal. Karenanya, obat kumur tenggorokan mungkin berpotensi mengendalikan pandemi Covid-19.

Sejalan dengan hal tersebut, studi uji coba acak dilakukan di Jepang dan memperlihatkan bahwa berkumur tenggorokan dengan air ledeng 3 kali sehari secara signifikan mengurangi kejadian infeksi saluran pernapasan atas (ISPA).

Studi di Inggris pun memperlihatkan serupa dengan hasil bahwa irigasi rongga hidung dan berkumur dengan hipersonik saline selama 48 jam setelah timbulnya gejala pada pasien dengan ISPA secara signifikan mengurangi periode penyakit sebesar 1,9 hari, penggunaan obat sebesar 36 persen, transmisi kontak rumah sebesar 35 persen, dan viral load secara signifikan.

"Kemungkinan alasan untuk keeftifan berkumur di tenggorokan mungkin karena bahan pencuci fisik yang digunakan dalam berkumur menyebabkan pelepasan virus dan sel yang terinfeksi atau menyebabkan inaktivasi kimiawi virus," terang peneliti.

Dijelaskan di sana, konsentrasi klorin dalam air ledeng di Jepang itu mencapai lebih dari 0,1 mg/L hingga 0,5-0,8 mg/L di beberapa daerah yang mana itu cukup untuk memastikan inaktivasi virus.

Ion klorida dalam larutan garam hipertonik telah terbukti juga menghambat replikasi virus dan digunakan oleh sel untuk memproduksi asam hipoklorit untuk memberikan efek antivirus.

Menjadi catatan, meskipun berkumur dengan larutan klorida (air garam) memiliki hasil yang positif, penelitian skala besar lebih lanjut diperlukan untuk menentukan konsentrasi klorida dan frekuensi berkumur yang ideal untuk mencapai harapan yang diinginkan.

"Berkumur ini hampir dikatakan gratis tetapi memiliki manfaat sosial dan ekonomi dari pengurangan ISPA yang sangat besar," tulis peneliti.

Berkumur

Peneliti menuliskan juga bahwa meskipun berkumur membantu membersihkan mulut dan tenggorokan, sayangnya masih belum ada uoaya yang bisa dilakukan untuk membersihkan saluran pernapasan. Selain itu, saat ini belum ada bukti yang ditemukan untuk membantu menghilangkan Covid-19.

Untuk pasien dengan hipertensi dan penyakit ginjal, konsumsi garam yang berlebihan pun harus dihindari. Orang dengan refleks menelan tidak normal pun harus menghindari berkumur air garam untuk mencegah tersedak dan pneumonia aspirasi.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa berkumur air garam dapat mengurangi viral load di tenggorokan pasien ISPA. Ingat, ini hanya mengurangi bukan membasmi virus secara keseluruhan, tapi tetap saja memberi napas positif.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini