Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

7 Wilayah di Kabupaten Sukabumi Berpotensi Tsunami, Ini Sebarannya

Putra Ramadhani Astyawan, Jurnalis · Sabtu 26 September 2020 13:38 WIB
https: img.okezone.com content 2020 09 26 620 2284162 7-wilayah-di-kabupaten-sukabumi-berpotensi-tsunami-ini-sebarannya-hqxyjhTEbA.jpg Ilustrasi. (Foto: Sindonews)

BOGOR - Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi mencatat sebanyak tujuh kecamatan rawan diterjang gelombang tsunami yang disebabkan potensi gempa megathrust di selatan Pulau Jawa. Ketujuh kecamatan tersebut berada di sepanjang garis pantai selatan Kabupaten Sukabumi.

"Ada tujuh kecamatan mulai Tegal Buled, Cibitung, Surade, Ciemas, Ciracak, Cisolok, Pelabuhan Ratu. Simpenan juga ada sedikit ya," kata Plt Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Sukabumi Maman Sualeman, kepada Okezone, Sabtu (26/9/2020).

BACA JUGA: Gempa Besar dan Tsunami 20 Meter, BMKG: Berpotensi Hampir di Seluruh Indonesia

Maman menambahkan, dari wilayah tersebut yang paling rawan adalah Tegal Buled, Cisolok dan Pelabuhan Ratu. Karena, masyarakat yang tinggal di sana sangat berdekatan dengan bibir pantai.

"Yang paling besar berpotensi itu pertama ada di Pelabuhan Ratu itu di Cisolok dan Tegal Buled karena penduduknya dekat ke pantai. Pusat pemerintahan juga ada yang di Pelabuhan Ratu," tambah Maman.

Kemudian terkait antisipasi, pihaknya terus membuat jalur-jalur evakuasi warga di wilayah tersebut. Namun, ada beberapa wilayah itu yang menjadi perhatian khusus karena berada jauh dari dataran tinggi.

BACA JUGA: BPBD Sukabumi Waspadai Potensi Tsunami di Pantai Selatan

"Kalau jalur kita usahakan terus kita buat. Contoh misalkan di Pelabuhan Ratu, kalau di sana masih memungkinkan lah karena ada bukit dekat dataran tinggi di atas 50 meter jadi aman, Cilosok juga sama Cikakak masih aman jalur evakuasi. Artinya dalam waktu 20 menit mereka bisa mengamankan diri. Yang menjadi paling perhatian itu Tegal Buled, karena dataran tingginya jauh dari pantai. Tapi tetap kita buatkan jalur-jalur evakuasi paling tidak untuk mengurangi resiko bencana," jelasnya.

Sementara, kesiapan personel maupun peralatan dinilainya sudah memenuhi standar penanganan jika terjadi bencana. Meski demikian, terpenting juga memberikan edukasi dan pelatihan evakuasi terhadap masyarakat yang tinggal di daerah rawan bencana.

"Anggaran, Alhamdulillah Pemkab menyiapkan lumayan baik dari APBD atau bantuan lain walaupun belum maksimal. Tapi dibandingkan wilayah lain kita cukup lumayan. Peralatan juga alat berat, kendaraan rescue, tangki, truk da lainnya semua siap. Walaupun mungkin masih ada kekurangan tapi untuk standar kita sudah memenuhi. Kalau personel kita punya Satgas, relawan di kecamatan, kita besinergi TNI-Polri, Basarnas, relawan-relawan eksternal, kurang lebih ada 40 komunitas relawan bencana. Jadi secara garis besar, kita sudah standar lah," tutup Maman.

Sebelumnya peneliti dari Institut Teknologi Bandung (ITB) mengelola data berdasarkan hasil pengolahan data gempa yang tercatat oleh stasiun pengamat Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) dan data Global Positioning System (GPS) diperoleh indikasi adanya zona dengan aktivitas kegempaan yang relatif rendah terhadap sekitarnya, yang disebut seismic gap di selatan Pulau Jawa.

Adalah, Peneliti dari ITB, Profesor Sri Widiyantoro yang melaporkan kemungkinan adanya potensi ancaman aktivitas gempa disertai gelombang tsunami 20 meter selatan Pulau Jawa tersebut.

''Seismic gap ini berpotensi sebagai sumber gempa besar (megathrust) pada masa mendatang. Untuk menilai bahaya inundasi, pemodelan tsunami dilakukan berdasarkan beberapa skenario gempa besar di sepanjang segmen megathrust di selatan Pulau Jawa,'' tutur Profesor Sri Widiyantoro.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini