Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Vaksin Covid-19 Dipastikan Aman Sebelum Disuntikkan, Prof Wiku Jelaskan Alasannya

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Rabu 07 Oktober 2020 15:07 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 07 620 2289868 vaksin-covid-19-dipastikan-aman-sebelum-disuntikkan-prof-wiku-jelaskan-alasannya-ldx8AtCYIg.jpg Ilustrasi (Foto : Medicaldaily)

Pemerintah Indonesia terus melakukan uji klinis vaksin virus corona Covid-19 yang nantinya akan disuntikkan pada jutaan masyarakat Indonesia. Saat ini Indonesia melalui BUMN Bio Farma bekerja sama dengan Sinovac tengah melakukan proses uji klinis fase 3 di Bandung.

Sementara Kimia Farma dan G42 Uni Emirat Arab melakukan uji klinis fase 3 dengan target subyek 22 ribu orang. Dan ketiga, kerja sama PT Kalbe Farma dengan Genexine Korea sedang uji klinis fase 1 dan 2A di Korea dengan 60 subyek. Pemerintah pun tengah mengembangkan Vaksin Merah Putih, produksi dalam negeri.

Juru Bicara Satgas Penanganan Covid-19 Prof Wiku Adisasmito memastikan vaksin yang akan disuntikkan masyarakat sudah melalui beberapa tahap uji klinis hingga dinyatakan aman. Baik itu yang dikembangkan kerja sama dengan negara lain maupun Vaksin Merah Putih yang sedang dikembangkan pemerintah.

Prof Wiku

“Vaksin yang nantinya masuk ke Indonesia harus dipastikan secara data dan penelitian aman bagi masyarakat. Pengembangan vaksin umumnya butuh waktu dan proses yang cukup panjang,” ungkapnya dalam rilis yang disampaikan oleh Tim Komunikasi Komite Penanganan Covid-19 dan Pemulihan Ekonomi Nasional, Selasa 6 Oktober 2020.

Lalu bagaimana dengan risiko Antibody-Dependant Enhancement (ADE)? Prof Wiku mengatakan, ADE adalah suatu kondisi reaksi tubuh karena antibodi tubuh melawan antigen yang berupa virus atau bakteri. Namun sejauh ini ADE hanya ditemukan pada penyakit dengue dan sejenisnya dan tidak pada virus lain. Fenomena ADE hanya terlihat pada Mers, Sars, Ebola, HIV.

“Mereka semata-mata ditemukan in silico dan in Vitro, dan tidak menggambarkan fenomena di manusia. Fenomena ADE untuk Sars Cov-2 sudah diselidiki sejak percobaan praklinis hingga dinyatakan aman dan baik,” terang Prof Wiku, dalam siaran pers yang diterima Okezone, Rabu (7/10/2020).

Baca Juga :Potret Menggoda Cinta Laura ala Gadis Latin, Netizen: Cantik Banget Queen!

Sutik Vaksin

Prof Wiku menjelaskan karena adanya perbedaan antara hewan percobaan dan manusia, tentunya risiko ADE pada manusia harus diinvestigasi.

“Inilah pentingnya uji klinis melalui semua fase, jika sudah lolos fase 3 dan memberikan laporan yang baik, maka kandidat vaksin bisa meminta persetujuan edar dari lembaga pengawas. Pemerintah dalam hal ini tidak akan terburu-buru dan berpegang teguh pada data hasil uji," lanjut Wiku.

Berdasarkan World Health Organization WHO.Draft Landscape of Covid-19 candidate vaccines yang diperbaharui per 2 Oktober sudah ada 10 vaksin yang masuk ke dalam tahap 3 uji klinis.

Ke-10 vaksin tersebut yakni Sinovac, Wuhan Institute of Biological Product atau Sinopharm, Johnson Pharmaceutical Companies, Kansino Biologic Incorporated atau Beijing Institute of Biotechnology, Gamalea Research Institute, Beyond Tech atau Fossum Pharmaficer, University of Oxford atau Astrazeneka, Novavac, Moderna atau NIAID dan Beijing Institute of Biological Product atau Sinopharm.

Tahap pembuatan vaksin

Proses pembuatan vaksin bukanlah hal yang mudah. Sebab para ilmuwan harus melewati tahap uji klinis untuk memastikan vaksin tersebut aman untuk digunakan.

Prof Wiku Adisasmito menjelaskan bahwa tahapan pembuatan vaksin dimulai dari penelitian dasar. Ilmuwan akan menelusuri mekanisme potensial berdasarkan ilmu sains biomedis.

“Kemudian vaksin akan dibuat dalam jumlah terbatas untuk bisa memasuki uji praklinis dan uji klinis tahap 1, 2 dan 3. Secara rincinya dalam tahap uji praklinis dilakukan studi sel di laboratorium yaitu studi in Vitro dan in Vivo untuk mengetahui keamanan bila diujikan pada manusia,” terang Prof Wiku.

Uji Vaksin

Setelah dinyatakan aman untuk manusia, vaksin baru memasuki uji fase 1. Pada tahap ini vaksin diberikan pada sekelompok kecil orang untuk melihat respon imunitas dan kekebalan yang dipicu.

“Pada fase 2, vaksin diberikan pada ratusan orang sehingga para ilmuwan dapat mempelajari lebih lanjut tentang dosis yang tepat. Pada fase 3, vaksin diberikan pada ribuan orang untuk memastikan keamanannya termasuk efek samping yang jarang terjadi dan keefektifanya,” lanjutnya.

Baca Juga :Potret Menggoda Cinta Laura ala Gadis Latin, Netizen: Cantik Banget Queen!

Lebih lanjut, tahap uji coba vaksin juga melibatkan kelompok kontrol yang diberi placebo. Artinya kelompok kontrol adalah masyarakat yang disuntik tapi tidak dengan vaksin. Melalui proses uji klinis ilmuwan dapat mengetahui apakah vaksin menimbulkan efek samping atau tidak.

“Mengingat belum ada vaksin Covid-19 yang lulus uji klinis tahap 3, kewaspadaan dan monitoring terhadap keamanan vaksin terus dilakukan,” tuntasnya.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini