Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Kabar Baik, Kekambuhan Covid-19 Tak Seburuk yang Dipikirkan

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 19 Oktober 2020 12:39 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 19 620 2295873 kabar-baik-kekambuhan-covid-19-tak-seburuk-yang-dipikirkan-i6zSAbG5CU.jpg Ilustrasi (Foto : Medicaldaily)

Belum lama ini Amerika Serikat mengumumkan pasien Covid-19 kambuh pertama di negaranya. Ia diketahui berusia 25 tahun, berasal dari Nevada. Si pasien didiagnosis Covid-19 pada April, lalu kembali terinfeksi pada Juni 2020.

Kemudian, laporan The Lancet menjelaskan bahwa ada hal yang mesti diperhatikan dari kejadian ini. Adalah si pasien tergolong muda dan sehat tanpa kondisi penyakit penyerta. Tidak hanya itu, bukan hanya positif Covid-19, tapi pasien tersebut diketahui mengidap dua jenis Covid-19 yang berbeda jenisnya. Di kondisi penyakit kedua, pasien mengalami situasi yang lebih serius, ada gangguan pernapasan yang membuatnya mesti dirawat di rumah sakit.

Dijelaskan HuffPost, kasus yang dialami anak muda berusia 25 tahun ini bukan satu-satunya yang terjadi dan menarik perhatian. Minggu ini, peneliti juga melaporkan kematian pertama pasien yang terinfeksi Covid-19 dua kali, ia adalah perempuan asal Belanda berusia 89 tahun yang sedang menjalani kemoterapi.

Dari dua kasus ini, peneliti percaya bahwa pasien Covid-19 memang bisa kambuh lagi dan saat infeksi kedua menyerang, situasinya lebih serius dari sebelumnya.

Tapi, di sisi lain para ahli juga memperingatkan agar masyarakat tidak usah terlalu khawatir tentang kasus ini. Apa alasannya?

1. Tindakan medis yang sudah dilakukan melindungi tubuh Anda dari infeksi kedua

Sejak awal pandemi, pejabat kesehatan menekankan bahwa pihaknya tidak tahu banyak perihal kekebalan tubuh terhadap Covid-19. Beberapa ahli percaya bahwa 90 persen pasien Covid-19 bergejala akan memiliki antibodi yang cukup untuk melawan pajanan lain terhadap virus.

Pakai Masker

Tapi, itu benar-benar tebakan yang tepat. Pusat Pengendalian dan Pencegahan penyakit Amerika Serikat (CDC) mengeluarkan pernyataan bahwa tidak ada yang tahu percis bagaimana kekebalan Covid-19 terbentuk di dalam tubuh pasien Covid-19, termasuk bagaimana dia bekerja dan berapa lama dia bertahan di tubuh pasien.

Baca Juga : Studi: Pasien Covid-19 Pria Berusia Lanjut Berisiko Tinggi Meninggal

Mengingat kekambuhan Covid-19 bisa terjadi, penting bagi penyintas untuk terus melakukan pencegahan ekstra. Bahkan, ini harus dilakukan meski vaksin sudah ada.

"Sampai vaksin nanti ada, langkah-langkah kesehatan masyarakat harus tetap dilakukan," kata Alvin Tran, asisten profesor di Departemen Administrasi dan Kebijakan Kesehatan di Universitas New Haven di Connecticut.

Ia menambahkan, dengan begitu untuk semua orang tanpa terkecuali harus tetap menggunakan masker dengan benar, jaga jarak aman, dan sering cuci tangan.

2. Kejadian kekambuhan Covid-19 masih jarang

Pasien Covid-19

Sulit bagi dokter atau peneliti untuk mengukur dengan tepat seberapa luas penyebaran Covid-19 berulang ini. Pakar penyakit infeksi yakin mengatakan bahwa kejadian seperti ini masih sangat jarang terjadi.

"Infeksi ulang Covid-19 tampaknya jarang terjadi," kata Sandra Kesh, spesialis penyakit menular di Westmed Medical Group. Ini bisa terlihat di Amerika Serikat, kasus kambuh itu 1 berbandung 7 juta kejadian.

Karena itu, Sandra menegaskan kepada masyarakat, terkhusus para penyintas, agar tidak usah khawatir. "Ini bukan alasan untuk khawatir," tegasnya. Meski begitu, kewaspadaan tetap harus dilakukan dengan disiplin menjalankan protokol kesehatan.

3. Kasus kekambuhan ini diperlukan untuk pengembangan vaksin Covid-19

Terjadinya kasus kekambuhan Covid-19 memberi pencerahan untuk para peneliti mengembangkan vaksin. Laporan infeksi ulang ini terbukti menarik minat para peneliti vaksin, karena mereka jadi bisa mengurutkan genetik virus pada kasus pasien Amerika.

"Dari hasil studi, kedua virus yang masuk ke dalam tubuh pasien meski sama-sama SARS-CoV2 tapi genetiknya berbeda, sehingga bisa dikatakan si pasien terinfeksi virus corona dengan strain yang berbeda," terang Kesh.

Dia menjelaskan, pada beberapa jenis virus yang umum, kebanyakan dari mereka itu tidak atipikal. Ya, setidaknya ada 160 jenis rhinovirus yang menyebabkan flu biasa.

Pakai Masker

Virus flu itu sering bermutasi, yang mana ini adalah salah satu alasan kenapa vaksin flu disesuaikan setiap tahunnya agar dicoba dan dicocokkan dengan strain yang diyakini para ahli akan beredar.

Pada kasus Covid-19, peneliti belum mengetahui penyebab kenapa infeksi ulang bisa terjadi pada penyintas dan bagaimana tepatnya mutasi bisa cocok dengan semua itu.

"Kami tidak tahu berapa banyak antibodi yang ada pada para penyintas. Jadi, kami tidak tahu apakah antibodi itu memberi perlindungan atau tidak," jelas Margaret McCort, spesialis penyakit menular di Sistem Kesehatan Montefiore di New York.

"Kami juga tidak tahu apakah perubahan dalam urutan genom virus membuatnya lebih ganas atau lebih mungkin menyebabkan infeksi yang lebih parah," sambungnya.

Semua informasi ini penting untuk vaksin Covid-19, tetapi tidak ada peneliti yang tidak siap, kata McCort. Sebab, vaksin semestinya bisa melindungi manusia dari berbagai jenis virus yang ada, termasuk sesuai dengan strain dan genom virusnya.

Tapi, untuk masyarakat kasus ini menjadi kewaspadaan. Jadi, mari sama-sama meningkatkan kedisiplinan dalam menjalankan protokol kesehatan, termasuk di dalamnya menggunakan masker dengan benar, terus menjaga jarak dengan orang lain, dan cuci tangan secara rutin. Ini cara terbaik untuk kita semua terhindari dari Covid-19.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini