Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Studi: Pasien Covid-19 Pria Berusia Lanjut Berisiko Tinggi Meninggal

Muhammad Sukardi, Jurnalis · Senin 19 Oktober 2020 09:34 WIB
https: img.okezone.com content 2020 10 19 620 2295772 studi-pasien-covid-19-pria-berusia-lanjut-berisiko-tinggi-meninggal-MvbocajvXO.jpg Pria lansia risiko tinggi meninggal (Foto : Freepik)

Kelompok lanjut usia (lansia) menjadi salah satu yang paling berisiko buruk bila terpapar Covid-19. Studi terbaru mengungkapkan bahwa lansia laki-laki lebih tinggi risikonya untuk meninggal dunia bila terpapar Covid-19.

Studi ini dilakukan oleh beberapa peneliti Fakultas Universitas Kedokteran Indonesia-Rumah Sakit Cipto Mangunkusumo (FKUI-RSCM). Ditemukan fakta bahwa lansia laki-laki berisiko tinggi meninggal bila terpapar Covid-19.

Dikatakan dalam studi yang diterbitkan di jurnal Acta Medica Indonesiana Jurnal Q3 reputasi internasional dengan judul Clinical Profile of Elderly Patients with Covid-19 Hospitalized in Indonesia’s National General Hospital, tingkat kematian pasien Covid-19 di atas 60 tahun sebesar 23 persen.

Hasil tersebut didapati dari penelitian yang dilakukan pada pasien-pasien usia lanjut dengan Covid-19 yang dirawat secara intensif di RSCM. Penelitian dilakukan sejak April hingga Agustus 2020.

"Total ada 44 pasien usia lanjut dari 461 pasien rawat inap yang terkonfirmasi Covid-19. Mayoritas pasien berusia 60-69 tahun (68%) dan berjenis kelamin laki-laki (66%). Persentase pasien dengan gejala-gejala khas Covid-19, seperti demam, batuk, dan sesak napas hanya sekitar 50 persen. Sisanya datang dengan gejala tidak khas," terang laporan studi yang diterima Okezone, belum lama ini.

Dikatakan juga dalam studi tersebut bahwa tingkat kematian pasien usia lanjut dengan Covid-19 dalam penelitian ini (23%) lebih tinggi dibandingkan angka nasional (14,9%). Lalu, 90 persen pasien yang meninggal berjenis kelamin laki-laki.

Pakai Masker

Ada beberapa mekanisme yang menjelaskan mengapa laki-laki lebih rentan mengalami luaran buruk dalam kasus Covid-19, salah satunya karena penurunan jumlah sel B dan sel T pada laki-laki usia lanjut lebih besar dibandingkan perempuan. Dampaknya, respons imun yang dihasilkan pun tidak terlalu adekuat.

Selain itu, hormon testosteron, biasa dikenal masyarakat sebagai hormon seks pria, ternyata memengaruhi ekspresi TMPRSS2 yang berperan penting dalam proses masuknya virus SARS-CoV-2 ke dalam sel tubuh.

Pada penelitian ini, proporsi pasien yang meninggal pada kelompok usia 70 tahun ke atas lebih tinggi dibandingkan kelompok usia 60-69 tahun.

Baca Juga : Pandemi Covid-19, Perempuan Harus Siap Bantu Ekonomi Keluarga

Pria Lansia

Seiring dengan bertambahnya usia, sistem imun tubuh seseorang semakin mengalami disfungsi. Akibatnya, pasien-pasien Covid-19 usia lanjut semakin rentan mengalami 'badai sitokin' yang dapat menimbulkan masalah di berbagai organ tubuh dan memicu kejadian gagal napas.

"Keberadaan komorbiditas atau penyakit penyerta menjadi salah satu faktor yang meningkatkan risiko kematian pasien-pasien Covid-19," kata peneliti.

Hasil penelitian ini juga menunjukkan bahwa hipertensi dan diabetes melitus sebagai komorbiditas yang umum ditemukan pada pasien. Beberapa pasien bahkan memiliki komorbiditas lebih dari satu.

Meskipun multikomorbiditas bukan termasuk salah satu faktor risiko kematian Covid-19 yang menonjol pada penelitian ini, studi dari UK Biobank menyatakan multikomorbiditas, terutama multikomorbiditas kardiometabolik berkaitan dengan peningkatan risiko perburukan Covid-19.

Hal menarik lain yang patut diperhatikan terkait hasil penelitian ini adalah sebagian besar pasien (86%) tidak memiliki riwayat kontak erat dengan pasien terkonfirmasi COVID-19.

Mengingat tingginya risiko penularan melalui kluster keluarga dan banyaknya pasien asimptomatik atau tanpa gejala di Indonesia, anggota keluarga lain termasuk pelaku rawat harus selalu waspada serta lebih memerhatikan penerapan upaya pencegahan penularan Covid-19.

Pria Lansia

Sementara itu, Prof. Dr. dr. Ari Fahrial Syam, Sp.PD-KGEH, MMB selaku Dekan FKUI menerangkan bahwa populasi usia lanjut merupakan salah satu populasi yang paling berisiko tinggi terdampak Covid-19. Gejala-gejala yang dijumpai pada pasien kelompok usia ini seringkali tidak khas sehingga berujung pada keterlambatan diagnosis dan penanganan.

"Tingginya angka kematian pada orang tua harus menjadi pelajaran bagi masyarakat yang mempunyai mobilisasi tinggi dan memiliki anggota keluarga berumur 60 tahun ke atas untuk senantiasa menjaga jarak, serta tetap disiplin dalam menerapkan protokol kesehatan agar tidak menjadi sumber penularan virus di rumah," ungkapnya.

Penelitian ini dilakukan oleh sejumlah staf di Departemen Ilmu Penyakit Dalam FKUI-RSCM dan Clinical Epidemiology and Evidence-Based Medicine Unit (CEEBM) FKUI-RSCM.

Mereka adalah dr. Muhammad Khifzhon Azwar; Prof. Dr. dr. Siti Setiati, Sp.PD-KGer, M.Epid; Dr. dr. Aulia Rizka, Sp.PD-KGer, M.Pd-Ked; dr. Ika Fitriana, Sp.PD; Siti Rizny Fitriana Saldi, Apt., M.Sc.; dan dr. Eka D. Safitri, Sp.THT-KL.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini