Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Pandemi Covid-19 Sebabkan Penggunaan KB Turun

Wilda Fajriah, Jurnalis · Kamis 03 Desember 2020 12:17 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 03 620 2320818 pandemi-covid-19-sebabkan-penggunaan-kb-turun-1gHbHLUqcH.jpg Ilustrasi (Foto : Freepik)

Pandemi Covid-19 yang terjadi hingga saat ini dinilai berkaitan dengan penurunan jumlah akseptor KB (Keluarga Berencana). Padahal, alat atau obat kontrasepsi berkorelasi erat dengan kualitas sumber daya manusia unggul.

Kepala BKKBN DR (HC) dr Hasto Wardoyo Sp.OG (K) mengatakan, pandemi Covid-19 telah mempengaruhi capaian kesertaan masyarakat dalam ber-KB. Sejak awal Maret, April, dan Mei 2020 terjadi penurunan signifikan peserta KB. Kondisi ini terjadi karena keengganan masyarakat untuk datang ke dokter/bidan praktek swasta, klinik hingga fasilitas kesehatan yang membuka pelayanan KB.

Kepala BKKBN

"Di tengah pandemi, masalah layanan kontrasepsi menjadi perhatian khusus kami karena KB menjadi bagian sumber kesejahteraan keluarga," ujar Hasto dalam sebuah webinar.

Baca Juga : Ini Cara BKKBN Minimalisir Risiko Terciptanya Klaster Pelayanan KB

Sebaliknya, lanjut Hasto, ada pula dokter yang mengurangi jumlah pelayanan. Atau tidak membuka praktek sementara waktu. Keadaan ini menyebabkan penurunan jumlah akseptor tidak bisa dihindari.

Kondisi ini, bagi BKKBN, sangat mengkhawatirkan. Apalagi bila dikaitkan dengan kasus stunting yang saat ini masih tinggi, mencapai 27 persen. Padahal di 2020 ini target pemerintah turun menjadi 14 persen.

"Antara spacing dan stunting sangat berkorelasi. Karena itu berikan jarak antar kelahiran. Idealnya tiga tahun," ujar Hasto

Hasto pun menjelaskan, Kesuksesan menjaga jarak kehamilan, kesuksesan memberikan ASI eksklusif, dan kesuksesan dalam pengendalian kelahiran akan melahirkan sumber daya manusia Indonesia yang maju.

Konsultasi ke Dokter

Pada bagian lain penjelasannya, Hasto Wardoyo mengingatkan bahwa peluang terjadinya bonus demografi tidak berulang dua kali, walau secara teori bisa saja. Untuk Indonesia, bonus demografi pertama akan diraih pada 2025 dengan angka ketergantungan 46.

Artinya, 100 orang produktif menanggung 46 orang yang tidak produktif, di antaranya anak-anak dan lansia. "Kesempatan meraih sejahtera, menjadi kaya, dan maju negara ini adalah saat ada peluang bonus demografi," tandas Hasto.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini