Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Vaksin Covid-19 Pfizer Diisukan Sebabkan Kemandulan, Ini Faktanya

Leonardus Selwyn Kangsaputra, Jurnalis · Selasa 15 Desember 2020 10:17 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 15 620 2327832 vaksin-covid-19-pfizer-diisukan-sebabkan-kemandulan-ini-faktanya-KubQcoBbEq.jpg Vaksin Covid-19 masih terus diteliti (Foto : Medicaldaily)

Keputusan pemerintah untuk mendatangkan vaksin Covid-19 terus menuai pro kontra di masyarakat. Saat ini Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto telah menetapkan 6 macam vaksin Covid-19 yang nantinya akan diberikan kepada masyarakat.

Hal tersebut berdasarkan Keputusan Menteri (Kepmen) Kesehatan Nomor HK.01.07/ Menkes/ 9860/ 2020 tentang Penetapan Jenis Vaksin Untuk Pelaksanaan Vaksinasi Corona Virus Disesase 2019 (Covid-19). Kepmen ini ditandatangani Terawan pada 3 Desember 2020. Dalam keputusan itu juga tersebut enam vaksin yang akan digunakan.

Meski demikian, banyak kabar miring terkait dengan efek samping vaksin Covid-19. Salah satunya adalah vaksin Pfizer yang disebut menyebabkan kemandulan. Selain itu ada juga gejala-gejala jangka panjang yang bisa dialami penyintas Covid-19 seperti kelelahan, nyeri otot, hingga berkurangnya indera penciuman.

Menanggapi masalah tersebut Dokter Relawan Covid-19, dr. Muhammad Fajri Adda’i mengatakan, vaksin yang ada saat ini belum disuntikkan secara luas. Jadi masih harus memerlukan penelitian lebih lanjut.

vaksin covid-19

Bahkan dari enam vaksin yang disetujui Menkes Terawan hanya 1 vaksin, yakni Pfizer yang keluar datanya secara cukup lengkap. Pfizer juga menilai kalau memang tidak ada yang signifikan pada vaksin mereka.

“Mereka juga masih menunggu laporan. Sebab laporannya masih belum ada, maka tidak ada yang bisa menyimpulkan apapun,” terang dr. Fajri saat dihubungi Okezone, beberapa waktu lalu.

Baca Juga : Perawat Ini Jadi Orang Pertama yang Disuntik Vaksin Covid-19 di Amerika

Terkait dengan efektivitas, dr. Fajri memperihatkan laporan risiko penggunaan vaksin Pfizer bagi para penggunanya. Dalam laporan tersebut tertulis bahwa vaksin buatan Pfizer memiliki efek samping kepada penggunanya.

“Vaksin telah terbukti menimbulkan peningkatan reaksi merugikan lokal dan sistemik dibandingkan dengan yang ada di kelompok plasebo, biasanya berlangsung beberapa hari,” tulis laporan tersebut.

“Reaksi merugikan yang paling sering muncul adalah reaksi di tempat suntikan (84,1%), kelelahan (62,9%), sakit kepala (55,1%), nyeri otot (38,3%), menggigil (31,9%), nyeri sendi (23,6%), demam (14,2) %). Reaksi merugikan yang dicirikan sebagai reaktogenisitas umumnya ringan sampai sedang,” tambahnya.

Dalam laporan resmi Pfizer juga menyebut jumlah subjek yang melaporkan efek samping terkait hipersensitivitas secara numerik lebih tinggi pada kelompok vaksin dibandingkan dengan kelompok plasebo (137 [0,63%] vs 111 [0,51%]).

Reaksi merugikan yang parah terjadi pada 0,0-4,6% peserta, lebih sering terjadi setelah Dosis 2 daripada setelah Dosis 1 dan umumnya lebih jarang pada orang dewasa yang lebih tua (> 55 tahun) (<2,8%) dibandingkan dengan peserta yang lebih muda (≤4,6) %).

vaksin covid-19

Tidak ada masalah keamanan khusus yang diidentifikasi dalam analisis subkelompok berdasarkan usia, ras, etnis, komorbiditas medis, atau infeksi SARS-CoV-2 sebelumnya. Meskipun peserta berusia 16 hingga 17 tahun terdaftar dalam uji coba fase 3, data keamanan untuk kelompok usia ini terbatas.

Namun, data yang tersedia konsisten dengan profil keamanan pada populasi orang dewasa, dan secara biologis masuk akal untuk mengekstrapolasi pengalaman keamanan yang lebih besar pada orang dewasa. Khususnya dewasa yang lebih muda, ke kelompok usia anak tertua dari 16 hingga 17 tahun.

Hingga saat ini Pfizer juga masih menunggu laporan lebih mendalam terkait dengan efektivitas serta keamanan dari vaksin yang mereka buat. “Kalau Pfizer izin edarnya sudah dapat di Kanada, di Bahrain juga sudah. Sementara di Inggris juga sudah suntik cepat. Tapi semuanya masih on going. Laporannya masih belum clear,” tuntas dr. Fajri.

1
2

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini