Nyalakan notifikasi untuk berita terbaru dari Okezone

Produksi Migas PHM Lebihi Target meski Ada Pekerja Positif Covid-19

Giri Hartomo, Jurnalis · Sabtu 26 Desember 2020 11:30 WIB
https: img.okezone.com content 2020 12 26 620 2334089 produksi-migas-phm-lebihi-target-meski-ada-pekerja-positif-covid-19-VXGujVKzps.jpg Kilang Minyak (Reuters)

JAKARTA – PT Pertamina Hulu Mahakam (PHM) mencatatkan produksi minyak dan gas (migas) di atas proyeksi meski Pandemi Covid-19.

Per 24 Desember 2020, produksi likuid (minyak dan kondensat) PHM mencapai 29,4 ribu BOPD, atau sekitar 104% dari usulan Work Plan and Budget (WP&B) sebesar 28,4 ribu BOPD. Sedangkan produksi gas (wellhead) mencapai 605,5 MMSCFD dari usulan WP&B sebesar 588 MMSCFD.

“Kami juga telah mengebor 79 sumur pengembangan dari target 78 sumur dalam WP&B, dan diharapkan 1 – 2 sumur lagi akan diselesaikan hingga tutup tahun,” ujar General Manager PHM Agus Amperianto dalam keterangan tertulisnya, Jakarta, Sabtu (26/12/2020).

Baca Juga: Potensi Besar Aset Negara pada Hulu Migas

Target pengeboran sumur tercapai antara lain berkat berbagai inovasi yang dikembangkan dalam operasi pengeboran, yang bisa menurunkan durasi dan biaya pengeboran. Salah satunya dengan penerapan teknik pengeboran tanpa rig (rigless) untuk mengerjakan sumur dan menggantikannya dengan Hydraulic Workover Unit (HWU) baik di wilayah delta maupun lepas pantai.

"Metode rigless ini terbukti secara signifikan menekan biaya pengerjaan sumur,” katanya.

Menurut Agus, banyaknya inovasi di sektor operasi mendorong produksi minyak dan gas di atas target. Inovasi tiada henti terus dilakukan par insinyur PHM. Inovasi terkini adalah penyelesaian sumur pengembangan PK-B8.G1, tercepat di area lepas pantai (offshore) Mahakam dengan durasi 10,96 hari pada Jumat, 25 Desember 2020.

 

"Tubingless cementing berhasil dilakukan dengan offline (tanpa rig) dan menjadi enabler record baru,” ujarnya.

Para insinyur PHM sebelumnya juga memecahkan rekor pengeboran sumur lepas pantai (offshore) tercepat di Wilayah Kerja (WK) Mahakam, yaitu sumur B-G-4.G1 di Lapangan Bekapai. Insinyur PHM berhasil menyelesaikan pengeboran sumur lepas pantai dalam tempo 13,5 hari (di luar periode moving) dengan kedalaman 2.774 meter dari dasar laut pada kuartal III 2020. Rekor sebelumnya terjadi pada 2019, yakni 16,5 hari. Operasi ini nihil kecelakaan kerja dan tanpa non-productie time pengeboran dan dilaksanakan dengan protokol Covid-19 yang ketat.

Hal lain yang dikembangkan untuk efisiensi adalah penerapan arsitektur sumur One Phase Well (OPW), yang berhasil secara signifikan memangkas biaya pengeboran menjadi jauh lebih rendah bila dibandingkan penggunaan arsitektur Shallow Light Architecture (dengan 2 fase pengeboran) yang sebelumnya diterapkan. Inovasi lain yang dibuat para insinyur di PHM adalah metode slot recovery. Dengan metode ini, platform yang adalah kepala sumur (well head) dari sejumlah sumur yang sudah tidak berproduksi dimanfaatkan untuk mengebor sumur baru.

“Dengan teknik pengeboran side-track menggunakan HWU pada sumur-sumur re-entry, dan memanfaatkan komponen selubung pengeboran dari sumur-sumur lama, PHM berhasil menjaga keekonomian sumur-sumur pengembangan, antara lain karena tidak perlu membuat platform baru yang mahal harganya,” katanya.

Berkat berbagai inovasi tersebut, pada bulan Desember ini, PHM berhasil memecahkan dua rekor pengeboran tercepat, yaitu: di sumur delta TN-T165 di Lapangan Tunu dalam waktu 2,15 hari, dengan kedalaman 1.409 mMD, pada 8 Desember 2020, dan sumur offshore PK-B8.G1 di Lapangan Peciko dalam waktu 10,96 hari, dengan kedalaman 4.343 mMd, pada 25 Desember 2020. “Keberhasilan ini merupakan hasil keteguhan dalam merealisasikan usaha yang agresif dan kolaborasi multikeahlian yang menyiasati operasi dalam kondisi ekonomi yang penuh tantangan,” ujar Agus.

Terkait kegiatan operasi, Agus mengakui ada kasus penularan COVID-19 di kalangan pekerja di sejumlah site, namun hal itu tidak mengganggu jalannya kegiatan operasi PHM. Rasio penanganan tingkat kesembuhan mencapai 90% dan sampai saat ini tidak ada lapangan atau kegiatan operasi yang dihentikan sebagai akibat penularan COVID-19.

“Hal itu membuktikan kuatnya komitmen PHM untuk selalu kooperatif dan senantiasa mengembangkan sinergi dengan Pemerintah Kota maupun Satgas COVID-19 di Balikpapan, dalam hal penanganan pandemi selama 2020,” katanya.

1
2

Berita Terkait

Bagikan Artikel Ini

Cari Berita Lain Di Sini